Wayan Supadno
Di Indonesia kita ini memang unik sekali. Punya potensi besar sekali untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, tapi terabaikan. Ironis. Berikut ini fakta yang bisa diambil ilmu hikmahnya.
1). Rasio jumlah entrepreneur/pengusaha.
Di Indonesia cuma 3,41% kalah dengan Singapura 8,6%, Malaysia 4,6% dan Thailand 4,3%. Padahal jumlah perguruan tinggi (kampus) terbanyak ke 2 di dunia setelah India yaitu 4.000 lebih kampus kita.
Tapi tiada satupun yang masuk 100 kampus terbaik dunia. Data fakta ini, pertanda kampus kita “belum mampu” melahirkan pengusaha. Belum bisa mendidik dan mengajari agar mandiri sebagai pencipta lapangan kerja.
Kampus cuma melahirkan pencari kerja hingga banyak sarjana menganggur sampai 14% dari total pengangguran. Bahkan banyak jadi TKI. Sebabnya, karena hanya hafalan saja. Minim entrepreneurship.
2). Efek domino kekurangan entrepreneur.
Setiap negara yang punya banyak pengusaha, selalu linier “makin banyak” jumlah lapangan kerja, tinggi serapan invensi hasil penelitian agar jadi inovasi membumi. Negara tersebut makin cepat makmur dan maju.
Konkretnya karena Indonesia kalah rasio jumlah entrepreneurnya dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. Otomatis kalah juga kemakmurannya yaitu PDB/kapita Indonesia hanya USD 5.200 setara Rp 7 juta/kapita/bulan.
PDB/kapita di Singapura USD 95.000, Malaysia USD 13.000 dan Thailand USD 7.900. Artinya kampus mereka mampu mendidik dan mengajari jadi pengusaha. Wajar, makin banyak warga kita kuliah di negara tersebut.
3). Kalkulasi logis solusinya.
Jumlah UMKM kita 64 juta, ini sangat besar. Jika 5% saja atau setara 3,2 juta orang dari mereka dibina agar naik kelas jadi pengusaha formal. Implikasinya sangat “luar biasa” positifnya. Akan jadi solusi konkret beragam masalah bangsa.
Andaikan cuma 15 orang/pengusaha akan menyerap pengangguran 3,2 juta x 15 = 48 juta lapangan kerja tersedia. Andaikan membayar PBB, PPN, PPh dan lainnya indeks Rp 4 miliar/pengusaha x 3,2 juta = Rp 12.400 triliun menambah APBN.
Andaikan tiap pengusaha dari 3,2 juta pengusaha baru tersebut dapat fasilitas kredit bunga lunak Rp 10 miliar maka akan memutar dana Rp 32.000 triliun, jika “nilai tambah bersihnya” 20%/tahun setara Rp 6.400 triliun tumbuh/tahun.
Contoh konkretnya, UMKM diseleksi dan dibina oleh PPEJP Kementerian Perdagangan jadi Eksportir. Bank mendanai. Ini tidak sulit. Buktinya banyak yang sudah berhasil jadi eksportir besar karena PPEJP. Tinggal kampus, PPEJP, bank dan pemda bersinergi saja.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630