Wayan Supadno
Agar kita “bisa bersyukur” karena kebijakan pemerintah “tidak menaikkan” harga energi misal solar dan bensin. Bahkan terendah di Asean. Sekali lagi, kita harus bersyukur. Bukan justru sebaliknya “gaduh” agar BBM dinaikkan harganya.
Berikut ini kisah lapangan “Konsekuensi Harga Energi”, bisa diambil ilmu hikmahnya.
1). Konsekuensi ke Pangan.
Selama ini mengirim barang misal buah naga, beras dan lainnya. Harga Rp 6 juta dari Banyuwangi ke Jakarta. Muatan 6 ton. Indeks Rp 1.000/kg. Jika solar naik bisa Rp 9 juta/truk, harga beras bisa tambah Rp 5.00/kg.
Sebaliknya mengirim pupuk hayati Bio Extrim 6 ton dari Cibubur ke Banyuwangi, biasanya Rp 1.000/kg. Andaikan BBM naik bisa Rp 1.500/kg. Otomatis jadi beban petani. Lalu hasil jual produk juga naik, lalu masyarakat konsumen terbebani.
2). Konsekuensi ke Inflasi.
Karena biaya transportasi naik harga dan sarana prasana produksi juga naik harga, maka harga pokok produksi (HPP) juga ikut naik, lalu harga jual naik juga. Harga komoditas naik jadi mahal, jika berlarut waktu lama terbentuk inflasi.
Artinya jika kita punya pendapatan biasanya Rp 4 juta/bulan buat sekeluarga masih cukup dan masih menabung Rp 1 juta/bulan. Jadinya tidak bisa menabung. Bahkan bisa kurang mutu belanja pangannya. Nominal tetap, daya beli turun.
3). Konsekuensi ke Investasi.
Biasanya membangun kebun, biaya membuat jalan dan parit 3×3 meter panjang 130 meter/hari hanya butuh anggaran Rp 8 juta. Karena harga solar hanya Rp 14.000/liter dan habis 180 liter/unit Exca PC 200/hari. Indeks Rp 61.500/meter.
Bisa berubah “total fatal” jika BBM jadi Rp 30.000/liter solar, seperti harga di Singapura, misalnya. Kalkulasi logisnya indeks investasi tiap hektar kebun akan sangat mahal, apalagi biaya land clearing juga pasti naik. Maka BEP akan lebih lama. Lalu malas investasi dan ekspansi.
4). Konsekuensi ke Pengangguran/Kemiskinan.
Karena semua produksi jasa maupun barang tidak bisa lepas dari energi. Jika harga energi naik otomatis harga sandang pangan papan naik. Termasuk biaya sekolah anak-anak juga pasti naik. Maka akan makin sulit terjangkau. Kemisikinan riil akan bertambah.
Karena biaya investasi dan ekspansi mahal. BEP nya lama. Maka para pengusaha sebagai investor juga malas investasi. Implikasinya tertunda cipta lapangan kerja. Pengangguran makin banyak. Karena menganggur, maka tanpa pendapatan (miskin). Padahal hidup adalah biaya.
Ilmu hikmahnya bahwa energi sangat menentukan terhadap kehidupan kita. Kalau pangan hidup matinya sebuah bangsa, kalau energi nafasnya sebuah bangsa. Jika tidak bijak cerdas menyikapi “harga energi” bisa jadi sumbu ledak masalah bangsa. Apalagi jika ada yang menyulut.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630