Tue. May 12th, 2026

Wayan Supadno

Marketing (pemasaran) adalah kegiatan memperkenalkan, menarik perhatian, membangun kepercayaan dan membuat orang beli atau menggunakan jasa/produknya.

Bukan cuma paham maunya pelanggan, orang tertarik, hubungan baik, tapi harus bisa sampai pelanggan loyal total fanatik karena kepercayaan yang melekat hingga ketagihan.

Berikut ini empiris saya pribadi, bisa diambil ilmu hikmahnya buat anak muda Indonesia. Karena hampir pengusaha hebat, pernah jadi “Marketer” yang hebat terlebih dulu. Pesan ini penting.

1). Tahun 1990 sd 1992

Saya kerja di perusahaan farmasi (PMA/Inggris). Bidang marketing dan intelijen pasar. Di Kalsel, dipindah ke Sulsel dan ditingkatkan sekaligus Sulteng. Saya minta pindah ke Bali dan NTB, dikasih karena ada bukti marketing saya mengubah cashflow positif.

2). Tahun 1995

Saya mulai bisnis sekaligus dinas militer pangkat masih Letda. Di Sumut. Saya lihat karung bekas beras maupun pupuk di 3 gudang pabrik teh PTPN menggunung belasan tahun tidak laku. Jadi ratusan juta, karena saya marketingkan.

3). Tahun 2003

Saya punya rumah sakit swasta selain saya jadi Wakil Kepala RS Tentara di Pekanbaru Riau. Di rumah sakit milik saya tersebut ada masalah serius, dokter ahli bedah salah paham dengan Dirut rumah sakit. Karena berlarut, saya selaku owner menengahi.

Intinya doker ahli bedah tidak mau ikut aturan lazimnya. Alasanya demi keadilan. Dia minta 100% jasanya tidak dipotong 20% untuk manajemen, seperti lainnya. Disuruh menaikkan sendiri untuk rumah sakit. Tentu tidak bisa bersaing.

Saya bicara singkat, dokter bedah tidak mikirin PBB, gaji tukang parkir, gaji tukang sapu dan lainnya. Tapi manajemen atau Dirut memikirkan itu semua. Deal, tanpa sepakat dokter bedah tidak mau lagi praktik di rumah sakit saya tersebut.

Diumumkan lowongan kerja dokter bedah di koran kompas, 7 orang yang melamar. Deal minta fix income Rp 25 juta/bulan persis di RS Caltex. Marketing Manager saya target agar sebanyak mungkin kerja sama ke pabrik-pabrik. Dibuat sistem stimulus bonus ke marketing. Agar antusias.

Endingnya pasien mbludak, bahkan jika dibuat rasio 20/80 bisa di atas Rp 25 juta/bulan. Jadi rejekinya orang marketing, sisanya. Apa yang terjadi ? Dokter bedah bersama anak istri minta maaf datang ke rumah saya. Minta maaf, minta gabung lagi.

Ilmu hikmahnya, marketing perannya sangat penting. Tapi bukan berarti boleh semuanya. Merasa dibutuhkan lalu justru tidak dibutuhkan, merasa terpandang justru jadi terbuang. Marketing ujung tombak cipta cashflow positif, jika tanpa marketing bisa saja cashflow negatif, terjadilah declining. Risiko besar sebab bubar.

Salam Bermanfaat 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *