Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Kisah di bawah ini menghadirkan ilmu hikmah sumber pembelajaran ilmu kehidupan nyata. Patut jadi pemikiran bersama masalah, peluang dan solusinya. Dinamika ekonomi makro ke mikro. Jangan hanya melihat ancamannya, mari kita lihat peluang di baliknya.

1). Harga pangan utamanya sumber protein misal telur, ayam dan ikan beberapa bulan ini terus merangkak naik. Ini hanya akibat saja. Nyaris tidak bisa dikendalikan. Sekalipun dengan operasi pasar oleh pemerintah. Ini ancaman dan peluang.

2). Perputaran uang selama ini 60% beredar di DKI, 10% di kota-kota besar Indonesia, 10% lagi berputar di Ibukota Kabupaten dan sisanya berputar di pedesaan. Karena banyak perusahaan kantor pusat dan rekening bank di DKI dan kota besar. Ini tidak adil.

Data dan fakta di atas, bisa kita bedah. Pangan sumber protein hewani naik harga hingga 20%, jika terus berlarut akan jadi beban konsumsi keluarga konsekuensinya daya beli masyarakat akan turun dan membentuk naiknya inflasi.

Sebab utamanya karena serapan program prioritas pemerintah MBG telah berproses mengubah pola makan kita. Yang dulunya asupan protein hewani hanya 20 gram/hari. Kalah dengan Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia dan apalagi Singapura.

Lagi ditata ulang oleh menu MBG agar jadi 60 gram/hari agar sama dengan Malaysia. Sehingga mengurangi angka prevalensi stunting yang masih sangat tinggi 19,8%. Konsekuensinya serapan protein hewani naik tajam.

Saat bersamaan volume jumlah produksi masih tetap. Hukum Pasar bermain, saat pasokan tetap tapi permintaan naik maka harga akan naik. “Inilah peluang emas yang sesungguhnya, yang mestinya hak rejeki masyarakat pedesaan”.

Tapi jika kesempatan emas ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan. Harga tidak terjangkau. Sangat wajar kalau Kadin mengundang Investor dari RRT. Karena Indonesia sangat kurang jumlah pengusaha hanya 3,41% saja.

Sebab lain kenaikan harga, karena biaya penyerta produksi juga naik semua. GPS, kakek neneknya DOC anak ayam petelur dan pedaging yang kita pelihara selama ini hampir 100% impor dari AS. Begitu juga pakannya, termasuk sarana obat kesehatan ayamnya.

Sungguh kita harus bersyukur dengan adanya MBG, “Jantung Ekonomi” di pedesaan mulai kembali berdenyut normal. Akan menarik dana yang beredar di DKI dan kota besar sekitar 70% selama ini. Dengan begitu “Keadilan Ekonomi Sosial” sedang berproses terbentuk.

Peluangnya, masyarakat pedesaan yang investasi guna memenuhi kebutuhan pasar yang sangat besar di MBG tersebut. Jangan sampai dinikmati lagi oleh investor dari DKI, kota besar, apalagi kalau sampai mendatangkan investor dari RRT, itu salah besar.

Pemerintah, hendaknya juga “respon cepat” dengan situasi ini. Karena sekaranglah kesempatan emas membangkitkan “dahsyatnya” ekonomi kerakyatan. Caranya beri stimulus khusus agar ramai massal pada gemar investasi bidang pangan.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *