Wed. May 13th, 2026

Mari Membuka Mata

ByWayan Supadno

Mar 18, 2026

Wayan Supadno

Kerap kali kita dikerdilkan nyali kita, justru oleh kita sendiri. Melihat Indonesia parsial saja, subjektif hanya satu sisi negatifnya saja. Tanpa melihat sisi positifnya. Atau setidaknya tidak mau objektif.

Prinsip, tiada negara yang terbebas dari impor, ekspor impor hanyalah perdagangan antar negara saja. Tiap negara punya kelebihan masing-masing, itu bagian dari keadilan Sang Semesta.

Agar mudah kita dapat ilmu hikmah, dewasa melihat masalah utuh apa adanya, ibarat melihat gajah tidak hanya melihat sisi mahal saja yaitu gadingnya atau agar tidak hanya melihat duburnya saja.

Sapi, jagung, kedelai apalagi gandum memang kita selalu impor. Lebih murah dan konsisten bisa memenuhi besarnya pasar kita. Sebabnya inovasi, agroklimat dan luasan lahan, jadi sebab mereka murah dan banyak.

Di balik itu semua, kita tanpa sadar bahwa banyak industri kita yang melakukan proses produksi nuansa inovasi. Bahan bakunya impor, lalu kita ekspor lagi, ke berbagai negara termasuk negara asalnya.

Konkretnya, kita impor gandum hingga 11 jutaan ton/tahun. Tapi setelah jadi tepung, mie instan dan biskuit banyak kita ekspor. Kita dapat nilai tambah besar sekali, misal lapangan kerja maupun pajaknya.

Kapas, kita impor dari AS dan India. Kita proses di industri padat karya jutaan tenaga kerja terserap. Tapi setelah jadi benang, kain dan pakaian jadi kita ekspor lagi ke AS hingga surplus hampir Rp 300 triliun/tahun.

Bahkan kita sering kali “melupakan” bahwa Indonesia punya ribuan barang ekspor. Barang tersebut jadi pemimpin pasar global. Misal sawit, kelapa, manggis, salak, mangga, nikel, timah, batu bara dan lainnya.

Lalu bagaimana jika terjadi Perang Dunia ke 3, negara manapun pasti panik. Karena semua butuh ekspor impor. Tapi pangan kita kuat, energi juga. Walaupun tetap akan terjadi gejolak harga dan inflasi.

Selama ini CPO produksi kita 54 juta ton/tahun 50% nya kita ekspor, batu bara dan gas alam 60% kita ekspor. Itu bahan baku energi semua. Jika darurat, distop ekspornya. Kekayaan alam bukan milik pengusaha, tapi milik negara untuk rakyat.

Pertahanan negara, hal yang tidak dimiliki negara lain adalah kita menganut perang semesta. Artinya situasi tertentu tanpa diminta segenap anak bangsa terpanggil hatinya membela bangsanya. Dianggap panggilan suci.

Ingat, kita belajar dari sejarah bahwa kemerdekaan kita terjadi karena direbut para pemuda, santri dan masyarakat berani mati. Semboyannya “merdeka atau mati”, pekikan ini mental kuat mengalahkan senjata apapun juga.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *