Wayan Supadno
Anak muda Indonesia, untuk menambah wawasan dan sebentar lagi Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Kali ini saya urai petuah Jawa kaya makna dan ilmu hikmahnya. Jika mau jadi pebisnis, bukan hanya harus siap gagal, tapi juga harus siap sukses, ini butuh pengendalian diri.
1). Diam Sejenak, Di Tengah Keramaian.
Bahasa Jawa “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara.”
Terjemahannya, ilmu sejati hanya dapat dicapai melalui laku (praktik hidup), dimulai dengan kesungguhan hati, keteguhan batin, serta kesetiaan untuk mengekang sifat angkara.
Tidak cukup hanya dipikir dan bicarakan saja karena hafal. Hal mutlak harus selaras linier antara niat hati, pikiran, perkataan dan perbuatannya mesti konsisten.
Makna terkait Nyepi adalah laku spiritual, bukan sekadar ritual. Dengan menahan diri dari aktivitas duniawi, manusia belajar mengendalikan hawa nafsu. Saat sukses harus ada remnya.
2). Mengolah Batin, Kendali Diri.
Bahasa Jawa “Menenga ing sajroning rame, waspada ing sajroning sepi.”
Terjemahannya, tetaplah tenang di tengah keramaian, dan tetap sadar dalam keheningan. Tidak perlu mudah meledak-ledak, seperti mercon sumbu pendek saja.
Makna keheningan seperti pada Nyepi membantu manusia menemukan kesadaran diri dan kedekatan dengan Tuhan. Tahu diri agar bisa menempatkan dirinya sendiri.
3). Nilai Sebuah Kehidupan.
Bahasa Jawa “Wong kang waskitha ora gumedhe marang donya.”
Terjemahan orang yang bijaksana tidak sombong terhadap kehidupan dunia. Baik pangkat, jabatan dan harta. Itu hanya fana saja.
Makna Nyepi, manusia belajar bahwa kebahagiaan bukan dari kesenangan dunia, tetapi dari ketenangan batin. Nilai kemanfaatan hidup kita bagi sesama dan semesta.
4). Pendekatan Keheningan.
Dalam filosofi Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana.”
Artinya tidak mengejar kepentingan pribadi, tetapi aktif berbuat baik demi harmoni dunia, karena kehadiran kita di tengah masyarakat hendaknya memberi warna lebih indah.
Pada titik kulminasi Nyepi, membangun kesadaran diri masing-masing. Apakah selama ini sudah bermakna di tengah masyarakat atau justru masih sebaliknya, masih berperan tukang membuat heboh sebar hoax saja, itu misalnya.
5). Syukur Sumbernya Kebahagiaan.
Bahasa Jawa “Wis diuja ora rumangsa, sejatine yen katrima wis kamulya”.
Terjemahannya, sudah dilebihkan dari apa yang diminta tidak merasa, sesungguhnya jika disyukuri sudah dimuliakan Nya.
Konsep dalam Nyepi, saat dalam keheningan sendirian diskusi dengan hati nurani. Di sanalah letak kejujuran sejati. Tahu apa yang kita lakukan selama ini, benar atau tidaknya. Tentu dikaji. Direncanakan yang akan lebih baik lagi, lelakonnya.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630