Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Indikator utama kemakmuran bangsa terletak pada PDB/kapita, PDB/kapita Indonesia USD 5.200. Kalah dengan Singapura USD 95.000, Malaysia 13.000 dan Thailand USD 7.900. Unggul dari Vietnam USD 4.700.

PDB/kapita sangat dipengaruhi oleh lamanya pendidikan, makin tinggi pendidikannya makin makmur negara tersebut. Indonesia 8,7 tahun, Singapura 12 tahun, Malaysia 11 tahun, Brunei 10,5 tahun, Thailand 9 tahun.

PDB/kapita, juga dipengaruhi kinerja peneliti/ilmuwan yaitu indeks inovasi global. Indonesia peringkat 55 skor 31 dari 100. Peringkat negara Asean Singapura ke 5, Malaysia ke 34, Vietnam ke 44 dan Thailand 45.

Indeks kompleksitas ekonomi, kemampuan mengilirisasi iptek inovasi ke masyarakat jadi produk langka rumit yang diekspor, sangat besar pengaruhnya PDB/kapita. Indonesia ke 61, Singapura 10, Malaysia 25, Thailand 30 dan Vietnam 50.

Kunci kenaikan PDB/kapita, lokomotif perekonomian dan pencipta lapangan kerja adalah presentase jumlah pengusaha. Indonesia 3,41%. Singapura 8,6%, Malaysia 4,7%, Thailand 4,3% dan Vietnam 3,6%.

Global Hunger Index (HGI), mengukur kelaparan dan kurang gizi/stunting malnutrisi tinggi 19,8%. Indonesia kategori sedang masih 17-18. Peringkat 5 setelah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Ketahanan pangan (Global Food Security Index) beda dengan swasembada pangan. Ketahanan pangan meliputi terjangkau, tersedia, terakses, bermutu dan stabil. Indonesia ke 63 di dunia. Di Asean di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Problematika khusus, bidang pendidikan :

1). Walaupun jumlah kampus kita 4.000 lebih, no 2 setelah India. Tapi yang masuk 100 kampus terbaik di dunia “belum ada”. Yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas SDM kita, dulu banyak warga negara Malaysia studi ke Indonesia, sekarang terbalik.

2). Rendah kemampuan melahirkan entrepreneur yaitu pengusaha berbasiskan inovasi. Jumlah wirausaha hanya 3,41%. Padahal ini peran Tri Dharma Perguruan Tinggi no 1 pusat pendidikan dan pengajaran untuk kemandirian sebuah bangsa.

3). Gagal menghilirisasikan invensinya jadi inovasi membumi, sebab utama PDB/kapita rendah karena indeks kompleksitas ekonomi rendah, ekspornya bukan barang inovatif melainkan barang mentah. Ini bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi no 3, pengabdian masyarakat.

Silahkan diambil ilmu hikmahnya sendiri, data faktanya di atas, satu dengan yang lainnya erat korelasinya. Hal yang paling pertama utama adalah semua mawas diri, tanpa perlu gengsi. Perbuatan baik (keteladanan) adalah cara terbaik dakwah agama/kebaikan (KH Ahmad Dahlan).

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *