Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Teori buku di manapun juga, mengatakan bahwa ada 4 pilar pertumbuhan ekonomi negara yaitu konsumsi keluarga, investasi swasta, belanja pemerintah (APBN) dan surplus perdagangan global.

Penopang utama tiap negara beda. Indonesia 55% dari konsumsi keluarga, Vietnam 90% dari investasi manufaktur ekspor, Malaysia 70% dari investasi produksi lalu ekspor, Thailand 60% dari pariwisata dan manufaktur.

Agar mudah dapat ilmu hikmahnya. Berikut ini saya uraikan contoh kasusnya ;

1). Konsumsi Rumah Tangga.

Karena di Indonesia banyak premanisme dan ribet birokrasinya. Pengusaha investor memindah pabrik sepatu Nike dan Adidas ke Vietnam. Ribuan korban PHK, pajak triliunan untuk APBN tiada lagi, kredit rumah macet dan dampak lain banyak lagi.

Implikasinya konsumsi keluarga sekitar pabrik dan mantan karyawan turun drastis, pertumbuhan ekonomi Indonesia statis 5,1%. Vietnam cipta lapangan kerja massal, pajak besar untuk APBN, dapat devisa untuk impor bahan baku lagi dan ekonomi tumbuh 8%.

2). Investasi Swasta.

Pengusaha inovatif sebagai investor, yang mampu mengubah barang murah karena berlimpah dijadikan produk jadi langka lalu mahal. Nilai tambahnya besar. Mereka jadi rebutan banyak negara, hingga dijemput oleh Presiden dan Menterinya di negaranya.

Konkretnya membangun smelter bauksit, tembaga dan lainnya. Para investor SPPG/Dapur MBG saat ini 27.000 an setara investasi Rp 80 an triliun. Mendongkrak daya beli relawan, petani/peternak/nelayan supplier karena hasil panennya ditampung. Ekonomi tumbuh.

3). Belanja Pemerintah (APBN).

Ini kunci stimulus untuk menarik pihak swasta agar mau investasi di Indonesia, untuk menyerap pengangguran sehingga produktif lalu konsumsi rumah tangga naik dan impor ekspor surplus membentuk pertumbuhan ekonomi.

Konkretnya, APBN dialokasikan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kendal dan Batang terkoneksi dengan pelabuhan ekspor dan bandara. Karenanya para pengusaha global inovatif antri investasi di KEK, ekonomi tumbuh 8%, kabupaten tertinggi di Indonesia.

4). Surplus Perdagangan Global (Net Ekspor).

Perdagangan internasional Indonesia surplus sangat besar Rp 700 an triliun, tapi dominan bahan mentah. Bukan produk inovatif hasil kompleksitas ekonomi. Bukan hilirisasi inovasi. Tanda inovasi belum membumi. Negara tujuan ekspor “ketawa ngakak” dapat pasokan bahan baku lancar jaya.

Nilai kurs rupiah Indonesia terlemah ke 5 di dunia. Nomor satu terlemah Rial Iran. Rupiah terus melemah Rp 17.200/USD karena “kapital terbang”, banyak investor asing kabur. Dampak nyata akibat “sangat kurang” jumlah pengusaha investor domestik. Hingga kita impor pengusaha (PMA) sangat banyak, ekonomi statis 5,1%.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *