Saat ini banyak negara mengalami tekanan kuat Dolar AS. Bahkan Rial Iran terendah di dunia padahal PDB/kapitanya sama Indonesia USD 5.000. Kip Laos juga sangat rendah. Dong Vietnam juga jatuh padahal ekonomi tumbuh 8%.
Dolar AS meroket dan rupiah melemah hingga tembus Rp 17.400. Padahal pertumbuhan ekonomi bagus 5,61%. Situasi ini bisa negatif dan positif. Yang pasti peluang bersifat kekal seperti energi, di balik ancaman selalu tersembunyi peluang.
Contoh konkretnya agar dapat pembelajaran ilmu hikmah, bisa kita simak di bawah ini.
1). Salak Pondoh
Harga pokok produksi (HPP) tetap sekitar Rp 3.500/kg. Karena selama ini ekspor utamanya ke RRT hingga targetnya 900 ton. Transaksinya dengan Dolar AS. Otomatis labanya naik tajam. Petani bahagia dan makin sejahtera.
2). Hilirisasi Kelapa
Danantara sedang membangun banyak industri hilirisasi hingga ratusan triliun. Di antaranya kelapa yang selama ini hanya kita ekspor glondongan. Akan ekspor produk jadi Rp 3.400 triliun lebih devisa kelapa saja.Ilmu hikmahnya bahwa sedang terjadi pembentukan peluang emas ekspor sangat banyak. Asal mau saja memulai ekspor. Labanya akan makin besar jika bahan bakunya berbasis produk non impor.
Yang jadi sebab rupiah melemah hingga Rp 17.400 padahal ekonomi tumbuh bagus 5,61%. Akibat dari permintaan dolar AS menguat. Efek domino dari konflik di sentra sumber minyak bumi dan lintas perdagangan global.
Lalu banyak investor global cari aman, terjadinya kepanikan pasar global lalu menjual saham dalam rupiah buat diamankan di Dolar AS. Sisi lain Indonesia masih impor BBM cukup besar, impor mesin canggih investasi hilirisasi juga besar.
Kesemua di atas menguras cadangan devisa kita. Hal patut jadi pemikiran serius adalah kenapa kita masih sangat tergantung investor asing (PMA) yang suka menarik Dolar AS nya. Karena kita kekurangan investor domestik (pengusaha lokal).
Inilah pangkal masalahnya selama ini. Hingga dari tahun ke tahun sejak puluhan tahun silam rupiah terus melemah. Ideal solusinya perbanyak eksportirnya dan scale up kapasitas produksinya. Syukur jika produk dari hilirisasi yang nilai tambahnya besar.
Kata kunci, amanah terhadap pesan pada syair Lagu Kebangsaan Indonesia Raya “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Untuk Indonesia Raya”. Dengan makanan bergizi dan pendidikan budi pekerti (akhlak) sekaligus kemandirian yang benar.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630