Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Petani dan peternak bagian dari ekosistem perekonomian Indonesia dan otomatis jadi bagian dari rantai pasok global. Apapun itu mulai pangan, energi dan lainnya. Sangat dipengaruhi oleh geopolitik.

Agar anak muda mudah memahami, berikut ini kisah bisa diambil ilmu hikmahnya. Sehingga sangat pentingnya mau peduli membaca perkembangan geopolitik terkini perang AS-Israel dengan Iran.

1). Perang Rusia vs Ukraina.

Kita ingat persis di awal perang waktu itu harga pupuk kimia, utamaya KCl dan Urea spontan naik 80%. Karena Rusia penghasil Kalium dan selama ini banyak kita impor. Karena kita tidak punya tambangnya.

Jika tanpa dipupuk produksi turun 40%. Tapi jika dipupuk maka akan naik tajam biaya produksinya, otomatis berdampak nilai jual yang mahal. Akhirnya banyak yang enggan menanam. Produksi turun, harga pangan naik.

2). Perang AS-Israel vs Iran.

Saat ini harga pupuk NPK sudah naik 15%, ini fakta lapangan dan pasti naik terus. Harga daging ayam dan telur juga naik tajam. Ini dampak dari naiknya harga BBM fosil. Karena produksi dan distribusinya terganggu, serta sangat mahal.

Rantai pasok global sangat mempengaruhinya. AS sebagai produsen gandum, kedelai dan jagung papan atas di dunia ini. Akan turun produksinya karena mahalnya BBM fosil. Padahal komoditas di atas pakan ayam.

Belajar dari pengalaman, setiap ada gejolak geopolitik apalagi perang. Hampir selalu negara produsen pangan menahan pangannya “tidak boleh diekspor” untuk cadangan nasional minimal untuk setahun.

Kebijakan politik tersebut akan “menyusahkan” negara lain yang belum bisa swasembada pangan. Jadi ancaman serius bukan cuma kelaparan saja, tapi juga mengganggu stabilitas politik negara-negara tanpa swasembada tersebut.

Patut kita syukuri bersama, Presiden Prabowo naluri militernya sangat tajam terhadap apa yang akan terjadi. Sehingga ditargetkan harus swasembada pangan dan energi. Puji syukur parsial sudah terbuki.

Setidaknya beras sudah swasembada, jagung targetnya tahun 2026 swasembada dan energi paling lama 2 tahun lagi harus swasembada. Apapun caranya. Ini jadi harapan baru sumber penyemagat berkarya.

Ketergantungan total selama ini, terhadap DOC anak ayam impor, GPS nya. Ini sedang dibangun skala triliunan di banyak daerah. Agar swasembada ayam dan telur dari hulunya, yang dilakukan oleh peternak rakyat.

Bukan hanya dikuasai oleh dua perusahaan raksasa bidang unggas selama ini hingga 70% pangsa pasarnya, ini sangat berisiko tinggi jika tanpa dikendalikan oleh negara. Kita merdeka tapi belum berdaulat, syukur kita sedang berubah politiknya

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *