Wayan Supadno
Indonesia tahun 2045 saat HUT ke-100 Kemerdekaan Indonesia ditarget jadi negara maju. Indikator utama negara maju PDB/kapita di atas USD 15.000. Padahal saat ini baru USD 5.200 atau setara Rp 7 juta/bulan/kapita.
Agar goal, SDM nya harus disiapkan. Misal stunting maksimal 5%, saat ini masih 19,8% dan jumlah pengusaha harus minimal 8%, saat ini baru 3,41%. Pertumbuhan ekonomi harus konsisten minimal 8%, saat ini baru 5,1%.
Jalan pintas pertumbuhan ekonomi tinggi “investasi hilirisasi inovasi” minimal 4 kali lipatnya APBN. Karena rasio ideal ekonomi tumbuh 10% harus bersumber dari swasta minimal 80% dan maksimal 20 dari APBN.
Agar belajar dari kisah nyata. Berikut ini bisa kita kaji. Utamanya kaum muda pemilik masa depan Indonesia 2045 kelak. Ilmu hikmah ini sangat penting karena kompleksitas ekonomi timbul dari hilirisasi inovasi.
Di Kab. Batang dan Kab. Kendal.
Pertumbuhan ekonominya tertinggi di Indonesia yaitu 8,5% (Kab. Batang) dan 7,9% (Kab. Kendal) dan Nasional 5,11%. Dampak langsung dari banyaknya investasi hilirisasi inovasi di KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) nya.
Sekalipun tanpa kekayaan alam berlimpah, tapi lapangan kerja banyak. Banyak pabrik panel surya, kaca, keramik dan lainnya. Bahan baku dari Pangkalan Bun dan lainnya. Wajar banyak lapangan kerja.
Pasir Silika (Kuarsa) dibeli murah di lahan Kalimantan. Diproses dengan cara inovatif. Menghilirisasikan invensi hasil penelitian agar jadi inovasi membumi. Jadi produk langka mahal, dipasarkan ke banyak negara.
Labanya sangat besar, tentu kena pajak juga sangat besar untuk APBN kita. Jadi devisa untuk memperkuat cadangan kita yang akan digunakan untuk impor bahan baku industri misal kapas di India dan AS.
Kembali diproses cara inovatif lagi di KEK Kab. Batang dan Kab. Kendal tersebut lalu, cipta lapangan kerja massal dan kembali diekspor lagi. Sehingga dapat nilai tambah sangat besar terus menerus menaikkan PDB/kapita.
Masalahnya, kenapa kebanyakan investornya dari luar negeri (PMA). Apa kita kurang bahan baku, tidak. Bahan baku kita tidak habis 100 tahun lagi. Apa kurang modal, tidak juga buktinya dana pihak ketiga parkir di bank Rp 9.000 triliun lebih.
Apa kurang inovasi, tidak juga. Karena banyak numpuk di BRIN dan Kampus. Apa kurang iklim usaha, tidak juga buktinya PMA pada mau investasi. “Sesungguhnya yang paling kurang adalah jumlah pengusaha kita, hanya 3,41%”.
Ini akibat dari pola didik, bukan cipta lapangan kerja. Sejak di rumah doktrinnya sekolah agar mudah cari kerja, kuliah sama juga. Hingga sarjana menganggur 1 juta lebih atau 14% dari total pengangguran terbuka. Bahkan banyak kabur jadi TKI. Ini PR besar kampus kita.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630