Anak muda, artikel saya kali ini hanyalah rangkuman singkat hasil diskusi kecil dengan Sesepuh di Alas Purwo Banyuwangi. Arti ilmu harus dipraktikkan.
Ilmu kehidupan bukanlah sekadar sesuatu yang dibaca lalu selesai, melainkan sesuatu yang ditandai (dititeni).
Dalam setiap denyut pengalaman. Hadir dalam kejadian sehari-hari dari kegagalan jadi sumber mengajarkan.
Dari keberhasilan kecil yang menumbuhkan syukur, memancarkan secercah cahaya harapan membuka rasa.
Ilmu ini tidak pernah benar-benar selesai dipelajari, karena hidup sendiri adalah kitab yang terus menulis hal dirinya.
Hanya akan benar-benar “ketemu” ketika disentuh oleh praktik. Sekali lagi, jika dipraktikkan. Seperti api yang tak akan hangat jika hanya dibayangkan, ilmu pun tak akan bermakna jika hanya disimpan dalam pikiran.
Tangan harus bergerak, langkah harus mencoba, hati harus berani merasakan. Harus.
Dalam proses itu, kita menandai mana yang benar, mana yang perlu diperbaiki, mana yang bisa dibagikan. Perlahan, tanpa kita sadari, kita menjadi pembelajar sejati dari kehidupan itu sendiri.
Tujuan akhirnya bukanlah sekadar menjadi tahu, tetapi menjadi berarti manfaatnya.
Dari situlah “nilai jasa” tumbuh sebagai jejak kebaikan yang menetap di hati orang lain.Lihatlah teladan seperti Ki Hajar Dewantara. Tidak hanya memahami pentingnya pendidikan.
Prinsipnya sederhana namun dalam “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.
Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.
Atau dalam keseharian yang lebih dekat seorang petani yang belajar membaca musim dari langit dan tanah, menandai tanda-tanda alam. Lalu membagikan ilmunya kepada tetangga agar panen mereka juga berhasil. Ia mungkin tak pernah menyebut dirinya “berilmu”.
Tetapi apa yang dilakukan adalah inti dari ilmu kehidupan itu sendiri belajar, menandai (niteni), mempraktikkan, lalu memberi manfaat.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630