Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Di panggung dunia, World Food Programme (WFP) berdiri sebagai penjaga harapan. Merangkul pemerintah di lebih dari 80 negara.

Menyuapi sekitar 82 juta lewat program nasional. MBG. Ini sangat penting. Bagi yang belum paham juga, justru patut dipertanyakan.

Sepiring makanan bergizi itu bukan sekadar pengganjal lapar. Tapi jaring penyelamat yang mengundang anak-anak ke bangku sekolah.

Menahan mereka untuk tetap belajar, menyehatkan tubuh-tubuh kecil, dan menghidupkan denyut ekonomi lokal lewat hasil bumi yang ditanam di tanah sendiri.

Sementara itu, di tanah kita, Indonesia masih terperangkap dalam “middle-income trap”. Ini sangat berisiko tinggi jika tanpa disadari dan disikapi.

Sudah tiga dekade berjalan di tempat, berayun antara negara berpendapatan menengah bawah dan menengah atas. Ini harus diwaspadi angka pembuat terlena.

Meski sempat kembali menyandang status menengah atas pada 2023, denyut pertumbuhan kita tertahan di angka 5%. Walaupun begitu, mari tetap semangat.

Padahal untuk menembus gerbang negara maju pada 2045, kita butuh langkah lebih cepat 8% atau lebih. Artinya butuh investasi Rp 8.000 triliun.

Yang mengganjal adalah akar yang lebih dalam yaitu produktivitas yang lesu, pendidikan yang timpang, sangat minim melahirkan insan pencipta lapangan kerja dan jurang ketimpangan yang menganga.

Di tengah itu semua, saya makin menaruh hormat setinggi-tingginya pada masyarakat pedesaan. Dengan rendah hati saya mengucapkan terima kasih atas kontribusinya.

Mereka yang setia membudidayakan pangan di tanahnya sendiri, juga di negeri sendiri. Berbuat nyata demi keberlanjutan hidup dan kehidupan bangsa kita ini.

Sebab dari tangan-tangan merekalah, masa depan yang kita cita-citakan itu disemai sebutir demi sebutir, sesabar petani menunggu musim panen tiba. Sungguh mulia.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *