Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Artinya peluang usaha yang sedang dibutuhkan oleh pasar saat ini. Karena bisnis butuh kepastian pasar. Bisa dilihat dari gejala harganya yang meroket, pertanda pasokan kurang dibanding permintaan.

Mari kita ambil ilmu hikmahnya dari kisah di bawah ini, anak muda dapat belajar membangun masa depan yang lebih nyata, agar dapat profit (laba) dan memberi benefit (manfaat) ke orang lain.

1). Petani Pisang

Walaupun saya belum pernah jumpa, tapi kadang saya monitor kegiatan pemasaran produk saya Bio Extrim. Di Bogor ada petani pisang tiap bulan pesan pupuk Bio Extrim Granul puluhan ton.

Ternyata pekebun Pisang Cavendish, karena jumlah besar pesanan Bio Extrim, bertahun-tahun. Pasti luasnya juga puluhan hektar. Bisa jadi untuk ekspor dan memenuhi SPPG/Dapur MBG di sekitranya.

Prediksi saya saat ini, harga pokok produksi (HPP) Rp 1.500/kg, nilai jual Rp 6.000/kg laba Rp 4.500/kg, lazimnya Rp 30 ton/ha/tahun. Laba Rp 135 juta/ha/tahun. Sejak tanam 12 bulan sudah panen.

Ini peluang emas, tidak harus langsung luas. Apalagi sejak ada MBG permintaannya makin besar massal. Syaratnya bisa 5K 1H. Kontinuitas, kualitas, kuantitas, kecepatan dan ketepatan spesifikasinya. Terakhir harga wajar.

2). Petani Jeruk Madu.

Sahabat saya di Pekanbaru dan Banyuwangi. Kebetulan beli bibit jeruk madu chokun dari saya. Sekarang pada panen raya walaupun baru 2 tahun, karena yang dipesan bibit jeruknya sudah remaja besar.

Permintaan pasar juga sangat besar karena MBG juga. Sumber vitamin. Indeks asupan di Indonesia baru 25% dari rekomendasi WHO 400 gr/hari, jumlah asupan buah dan sayur. Masih sangat jauh dari harapan.

Pengalaman saya, HPP Rp 1.500/kg, jual Rp 15.000/kg, laba Rp 13.500/kg, hasil 30 ton/ha/tahun. Total profit 30 ton x Rp 13.500 = Rp 405 juta/ha/tahun. Benefit buat masyarakat jadi sehat cukup vitamin penjaga stamina.

3). Sumber Protein Hewani.

Indeks asupan protein hewani di Indonesia kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Ini sebab utama stunting kita masih 19,8% (BPS 2025). Jadi sebab IQ 78,49 dan tinggi badan 158 cm, kalah juga

Artinya ada peluang emas memproduksinya agar kebutuhan MBG terpenuhi. Karena harga makin naik terus pada telur ayam dan puyuh maupun daging ayam. Pertanda kurang pasokan, kebanyakan permintaan.

MBG mereposisi pola makan kita yang selama ini kebanyakan karbohidrat saja. Tapi protein hewani dan buah sayur masih sangat jauh dari target rekomendasi WHO. Ini juga peluang emas.

“Tuhan tiada akan mengubah nasib suatu kaum/bangsa/seseorang, jika yang bersangkutan tidak berusaha mengubahnya sendiri”. Pesan sangat bijak dari Kita Suci ini pedoman kita. Benar adanya.

Akan “sangat ironis”, jika MBG sudah massal nasional 82 juta penerima manfaat. Tapi barang bahan bakunya dari impor. Keenakan petani peternak luar negeri. Ini kesempatan emas ekonomi kerakyatan bangkit bersama sekaligus membangun SDM kita.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *