Wayan Supadno
Pola makan sangat berpengaruh pada mutu manusia. Sedangkan mutu manusia adalah rohnya sebuah bangsa, bukan kekayaan alamnya yang jadi roh sebuah bangsa. Bahkan tanpa SDM hebat, tapi kaya SDA, akan jadi bumerang.
Tak ubahnya tanaman jika kurang kalium dan phospor, tapi hanya kebanyakan urea maka produksinya terganggu. Ternak juga seperti itu, butuh protein dan vitamin maupun mineral penting, selain karbohidrat saja.
Indonesia berlebihan karbohidrat, tapi “sangat kurang” protein hewani walaupun total protein sudah cukup, buah dan sayur masih sangat kurang. Implikasinya pada tingginya stunting, IQ dan tinggi badan. Ini harus ada intervensi kebijakan politik.
1). Protein Hewani.
Rerata asupan protein hewani di Asean 25-35 gr/hari. Indonesia “sangat rendah” hanya 20-25 gr/hari. Singapura 60-70 gr/hari, Malaysia 50-60 gr/hari, Thailand 40-50 gr/hari, Vietnam 30-40 gr/hari dan Filipina 25-35 gr/hari.
Protein hewani “kunci tumbuh optimal, cerdas dan kuat”. Manfaatnya pertumbuhan, perkembangan otak, mencegah stunting, meningkatkan daya tahan tubuh dan sumber zat penting dan mempercepat pemulihan.
2). Buah.
Rekomendasi WHO buah dan sayur 400 gr/hari. Asean masih di bawah, apalagi Indonesia masih 25%nya. Buah saja Indonesia 30-50 gr, Vietnam 80-120 gr, Filipina 70-100 gr, Thailand 100-150 gr, Malaysia 90-140 gr dan Singapura 120-200 gr.
Manfaat buah dan sayur sumber vitamin dan mineral, daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, berat badan ideal, mengurangi risiko penyakit dan kesehatan kulit maupun mata.
Efek dominonya kurang protein hewani akan stunting, berpengaruh pada derajat kesehatan dan kognitifnya. Ketiganya ada korelasinya Indonesia mudah obesitas dan gula darah. Rerata produktivitasnya juga akan kalah.
Prevalensi stunting Indonesia 20%, negara Asean 15 sd 17%. Tinggi badan Indonesia 158 cm dan Asean 162 cm. IQ rerata Indonesia 78,49. Efek domino banyak. Misal jumlah pengusaha kalah dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Sangat wajar jika berimplikasi pada PDB/kapita (kemakmuran) di Indonesia hanya USD 5.200 atau setara hanya Rp 7 juta/kapita/bulan. Banyak Rp 2 juta/kapita/bulan. Singapura USD 95.000, Malaysia USD 13.000, Thailand USD 7.900.
Juga berdampak minim jumlah pengusaha Indonesia 3,41%, berimplikasi langsung pada banyaknya pengangguran dan rendahnya daya beli masyarakat. Karena pengusaha yang menyerap pengangguran maupun hasil penelitian.
Pengusaha di Singapura 8,6%, Malaysia 4,6%, Thailand 4,3%. Wajar pengangguran mereka lebih sedikit dan PDB/kapita mereka di atas Indonesia. Bahkan banyak impor tenaga kerja termasuk dari Indonesia, karena banyak yang cipta lapangan kerja.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630