Sungguh, sangat “menyakitkan hati” saya, ketika ada berita pejabat tinggi BGN ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi. Berarti selama ini nampak bersih hanya kemasan saja, dalamnya bobrok.
Apalagi ada medsos, kesannya menganggap semua jajaran dan mitra BGN juga korupsi. Padahal sangat banyak mau jadi investor SPPG karena panggilan hati, berbuat untuk putra putri pemilik masa depan negeri ini.
Rasanya sulit dipercaya, karena baru pulang dari ibadah Haji. Ironis. Tahu itu haram. Carut marutnya di BGN pertanda leadershipnya tidak dipraktikkan. Padahal ada Doktor dan 2 Jenderal menyakiti hati rakyat.
Ditambah lagi, kesannya begitu mudahnya Ka BGN baru (Bu Nanik S.Deyang) membuat pernyataan publik. Karena ucapan pimpinan adalah keputusan, itu harus ada data kajian dulu agar bijaksana.
Konkretnya, maksimal 6 Dapur MBG/SPPG per kecamatan. Padahal data demografi kita sangat bervariasi. Ini berpotensi jadi kepanikan para Investor SPPG dan penerima manfaat.
Contoh lain lagi, Juknisnya berubah-ubah misal supplier harus 15, ini sangat sulit SPPG di pedesaan. Bahan pangan juga juga tidak konsisten, misal harus telur terus. Pasti anak-anak bosan.
Waspada, pengusaha mau investasi Rp 3 miliar/SPPG karena “percaya” kepada pemerintah, Cq BGN. Akan diangsur insentif Rp 6 juta/hari. Berarti pemerintah punya utang 500 hari kerja agar lunas Rp 3 miliar/SPPG.
Artinya pemerintah harus sadar dan ingat awalnya bahwa investor SPPG akan dapat laba jika telah melampui 500 hari kerja. Harus sadar juga jika tanpa investor SPPG, betapa sangat besar beban APBN.
Saat ini total lebih dari 27.0000 SPPG setara Rp 80 an triliun itu dana milik masyarakat luas. Bisa jadi parsial sumber dananya dari hutang, tentu memakai jaminan. Ini kesannya terlupakan, justru saat MBG sudah jalan.
Jika ada kebijakan banyak SPPG akan ditutup atau tidak operasional dan “tanpa konsisten komitmen” dapat insentif Rp 6 juta/hari dari BGN, maka akan jadi masalah serius para investor.
Terjadi penumpukan SPPG dan sebaliknya “belum dapat manfaat” di banyak murid, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Itu murni karena “gagal mental jual beli titik dan leadershipnya” pengelola BGN.
Ilmu hikmahnya, sadar gangguan pada “misi mulia” MBG karena oknum saja. Solusinya hemat bicara hal keputusan, terlebih dulu libatkan para investor SPPG dalam kajian kebijakan BGN. Apalagi Presiden Probowo selalu menekankan efisiensi.
Salam Bermanfaat 🇮🇩
Wayan Supadno
Investor SPPG
HP 081586580630