Fri. Jun 19th, 2026

Wayan Supadno

Artikel singkat saya kali ini, fokus mengajak anak muda yang mau jadi praktisi bisnis. Tapi tidak tahu cara mengawali dan tidak tahu cara agar bisnisnya berkelanjutan untuk anak dan masyarakat.

Agar mudah diambil ilmu hikmah bahan pembelajaran ilmu lapangan. Lebih baik saya urai saja pengalaman saya pribadi selama ini, ada 2 fase saat mengawali dan proses regenerasi ke anak-anak saya.

1). Fase Mengawali Bisnis

Saya bukan darah keluarga pengusaha, bukan sarjana bisnis, bukan pewaris harta berlimpah karena orang tua saya transmigrasi. Saat mengawali bisnis tiada banyak waktu, karena saat itu dinas militer (1995).

Tapi suara hati ingin jadi pebisnis tetap saya dengarkan. Apapun konsekuensinya, karena referensinya banyak orang sukses bisnis juga tidak harus modal banyak, tidak juga sarjana dan bukan trah keluarga bisnis.

Mental nyali mengawali dan pantang menyerah saya bangun. Modal atau barang milik orang lain saya dagangkan. Skill orang lain saya berdayakan. Yang penting dapat laba halal cara terhormat.

Konkretnya, sekalipun tiada punya modal dan sambil dinas militer, dalam hati bertekat bulat harus dapat laba Rp 50 juta/bulan. Caranya karung bekas, pinang, cangkang sawit, batu kapur dan lainnya saya dagangkan.

Ternyata goal, bisa menabung miliaran/tahun. Jadi deposito Rp 6,7 miliar pada tahun ke 5 yaitu tahun 2000. Kata kunci berusaha bisa dipercaya. Baik karakter (komitmen) maupun skill leadership.

2). Fase Regenerasi Bisnis.

Sejak anak-anak masih kecil dengan sengaja saya “pamerkan” kalau saya sebagai ayah adalah “manusia pembelajar” serius. Tiap hari saya baca buku di depan mereka. Upaya memberi keteladanan kepada anak-anak.

Setiap investasi, misal membangun kebun sawit atau kandang sapi atau pabrik pupuk Bio Extrim, Organox dan ZPT Hormax. Saat liburan wajib ikut ke kebun atau menanam, jika malas ada sangsi tidak dibayar SPP kuliahnya.

Semua anak wajib lulus pascasarjana minimal S2, jika tidak maka tanpa dapat modal usaha. Misal kebun dan sapi. Ternyata semua bisa S2. Sejak awal mereka tidak saya rampas “haknya mengatasi kesulitannya” di lapangan.

Saat mereka studi, punya ilmu dari kampus. Kami membangun ekosistem bisnisnya. Agar manajemen yang mengelola. Sehingga usaha tetap jalan sekalipun lokasi berjauhan Kalteng, Banyuwangi dan Bogor.

Ilmu hikmahnya, terbukti nyata dasar pengalaman saya pribadi bahwa membangun usaha tidak harus menunggu semuanya siap sempurna. Dari serba tidak ada buktinya saya bisa. Walaupun masih ecek-ecek, 500 lebih pekerja saya.

Kuncinya bisa dipercaya dan membangun ekosistem leadershipnya, ini kunci utama agar berkelanjutan. Melibatkan anak-anak, sejak dini sebagai calon penerus agar tahu diri dan mencintai profesinya. Bisa bersyukur.

Artikel singkat ini, rangkuman paparan pada Praktisi Mengajar di Kampus Universitas Airlangga Surabaya, almamater saya. Di hadapan 720 mahasiswa. Kamis, 11 Juni 2026. Semoga pada ketularan jadi pengusaha pencipta lapangan kerja.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *