Wayan Supadno
Saat ini banyak negara mengalami deindustrialisasi, kontribusi manufaktur terhadap PDB menurun. Di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Jerman, India, Brasil dan lainnya.
Termasuk Indonesia, tahun 1990 kontribusinya 30% dari PDB, tahun 2025 hanya 18%. Tapi ada sisi positif kontribusi pada bidang jasa melompat 50%. Idealnya pertanian, industri, barulah ke jasa.
Deindustrialisasi bisa jadi sebab terjebak jadi permanen “negara berpendapatan sedang”, sangat sulit jadi negara maju. Ini yang harus cepat diantisipasi agar tidak terjadi.
Contoh konkret bahan kajian ilmu hikmah kita kali ini:
1). Penutupan Pabrik
Banyak pabrik kayu alam , tambang dan peternakan sapi skala besar. Mereka tutup karena sulitnya mengendalikan cashflow lalu merugi berlarut-larut jadi bangkrut, akibat kehabisan bahan baku.
2). Pindahnya Pabrik.
Banyak pabrik pindah ke Vietnam. Utamanya bidang sepatu, elektronik dan lainnya. Karena iklim usaha di Indonesia kalah dengan Vietnam. Misal banyak premanisme, perijinan sangat ruwet dan lainnya.
3). Kalah Berkompetisi.
Banyak industri tutup karena kalah bersaing. Utamanya bidang garmen/tekstil. Misal karena digitalisasi dan mekanisasi. Juga sebab mutu SDM, inilah salah satu sebab ada program MBG.
4). Lambannya Hilirisasi.
Banyak invensi hasil penelitian modal besar numpuk di lemarinya para peneliti, gagal jadi inovasi. Banyak komoditas mentah bahan baku diekspor begitu saja. Karena “minimnya” jumlah entrepreneur kita hanya 3,41%.
Dari empat contoh nyata di atas bisa kita hipotesakan bahwa deindustrialisasi sangat berbahaya jika tanpa terkendali. Karena akan mempersempit pangsa pasar tenaga kerja.
Implikasinya makin sedikit lowongan kerja formal di manufaktur. Berbanding terbalik, jumlah lulusan perguruan tinggi saja yang wisuda 1,7 jutaan orang/tahun. Karena menganggur, jadi non produktif.
Data BPS jumlah pengangguran terbuka 7,35 juta, setara 4,7%. Ironisnya lebih dari 1 juta lulusan perguruan tinggi jadi pengangguran, setara sudah 14% dari total pengangguran justru lulusan perguruan tinggi.
Solusinya bangunlah jiwa raganya SDM Indonesia, utamanya jiwa kemandirian/entrepreneurshipnya. Bangunlah iklim usahanya, agar start up kita tidak lagi 90% gagal dan pengusahanya bergairah ekspansinya.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630