Wayan Supadno
Beberapa tahun belakangan ini sawit Indonesia, persis nasibnya kelapa tahun 1980 an. Dibenci oleh masyarakat seisi dunia ini. Karena dituduh jadi sebab sakit jantung koroner dan kolesterol.
Jaman itu, apapun alasannya “pokoknya” kelapa harus salah. Akhirnya banyak kebun kelapa produktif ditebangi. Walaupun diberi data hasil penelitian ilmiah, kelapa harus diposisikan salah. Titik.
Sama dengan sawit belakangan ini. Sekalipun sawit asalnya dari hutan, tetap dianggap bukan tanaman hutan. Walaupun sawit sudah dipakai di 178 negara, tetap harus distop dari peredaran. Itulah perang dagang.
Itu semua karena pangsa pasar produk turunan sawit telah banyak merebut pesaingnya. Yaitu kedelai, bunga matahari dan lainnya sebagai sumber minyak nabati. Negara penghasilnya “mendongkol” sekali.
Bayangkan saja, jika mau menyaingi sawit 16,38 juta hektar harus” merusak hutan” menanam kedelai atau bunga matahari seluas 5 kali lipatnya atau sekitar 90 juta hektar. Karena sawit bisa 7,5 ton CPO/ha, kedelai hanya 1,5 ton/ha.
Hingga di Uni Eropa, ada UU pelarangan peredaran sawit. Dengan beragam alasan yang logis ilmiah sekalipun tiada digubris. Sekarang “kena batunya” mereka pada kesulitan mendapatkan sawit.
Karena di Indonesia diterapkan B50, yang akan butuh CPO 16 juta ton/tahun. Pangan dan oleokimia domestik 12 juta ton/tahun. Total diserap oleh Indonesia saja 28 juta ton/tahun. Kebijakan yang membuat negara lain pusing.
Ini akan mengurangi jatah ekspor dulu 32 juta ton/tahun, hanya tinggal 23 juta ton/tahun. Karena produksi CPO kita hanya 51 juta ton/tahun. Sehingga per 1 Juli 2026 diputuskan tidak impor solar. Swasembada. Joss Gandos !
Makin mendongkol lagi, setelah tahu harga pokok produksi (HPP) riilnya B50 sangat rendah. Karena HPP untuk CPO sesungguhnya maksimal hanya Rp 5.000/liter walaupun di harga pasar global Rp 16.000/kg.
Karena pasokan barangnya sedikit, jadi rebutan pasar. Penentunya produsen, Indonesia. Itu baru CPO. Padahal ada PKO (minyak mentah kernel/inti sawit), bahan baku farmasi dan kosmetik, produksinya 6 juta ton/tahun harganya 2 kali lipatnya CPO.
Bisa dibayangkan, biasanya banyak negara dapat 16 juta ton CPO/tahun jadi bahan baku industri mereka. Lalu kita stop jadi B50. Pasti industrinya banyak yang bangkrut, PHK massal, harga pangan dan kosmetik naik membentuk inflasi tinggi.
Begitu juga sumber pendapatan APBN dari pajak produk-produk industri juga akan drop. Sangat sulit mencari pengganti CPO dari Indonesia karena pangsa pasar kita 61% di dunia. Nangis mencari sawit yang “pura-pura” dibenci selama ini.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Anggota Dewan Pakar Sawit
HP 081586580630