Wayan Supadno
Kebijakan politik ekonomi makro umumnya berbasiskan analisis data empirik dan prediksi yang akan terjadi. Sehingga bisa meminimalkan risiko dan mengoptimalkan manfaatnya. Neraca Sawit Indonesia, penting dipahami publik.
Agar mudah dapat pembelajaran dari ilmu hikmah di balik kisah nyata, berikut ini patut kita simak.
1). Tahun 2012.
Malaysia geger banyak perusahaan pemilik kilang minyak sawit refineri “bangkrut massal” karena di Indonesia ditegaskan harus mulai hilirisasi. Itu terjadi karena analisis neraca sawit sebelum tahun 2012.
Indonesia sebelum tahun 2012 hanya ekspor CPO (minyak mentah daging sawit) dan PKO (minyak mentah kernel/inti sawit) saja. Ini merugikan Indonesia, devisa kurang optimal, kurang serapan pengangguran dan lainnya.
2). Tahun 2022
Kembali Indonesia stop ekspor sawit dan segala produk turunan langsung intruksi Presiden Jokowi, akibat minyak goreng langka saat itu. Ironis karena Indonesia produsen sawit terbanyak di dunia, total CPO dan PKO 56 juta ton/tahun.
Implikasinya 178 negara “meratapi” nasibnya. Karena 178 negara tersebut kehidupan masyarakatnya total tergantung produk dari turunan sawit. Mulai pangan, kosmetik dan farmasi. Karena langka, pada naik harganya.
Kejadian di atas jadi pembelajaran dunia. Neraca sawit di Indonesia dan neraca sawit di dunia. Karena 61% sawit beserta produk turunannya di dunia ini berasal dari Indonesia. Khusus Amerika Serikat, pangsa pasar sawit 82% berasal dari Indonesia.
Juli 2026 Indonesia akan menerapkan B50, artinya dari total kebutuhan solar 50% nya dari sawit. Akan menyerap CPO sekitar 16 juta ton/tahun. Karena dengan B40 saja sudah menyerap 12 juta ton/tahun. Konsekuensi logisnya akan mengurangi jatah ekspor 4 juta ton/tahun.
Konsekuensinya akan banyak negara terganggu pertumbuhan ekonominya, menurunkan daya beli masyarakatnya, inflasi naik karena produk dari sawit akan mahal di banyak negara, pengangguran akan tambah dan lainnya.
Berikut ini data neraca sawit Indonesia sebelum B50, atau masih B40. Patut jadi pertimbangan di balik misi mulia Presiden Prabowo mau swasembada energi berbasis sawit untuk biosolar, bioetanol dan bioavtur. Ini peluang juga ancaman.
Total produksi sawit kita 56 juta ton/tahun, meliputi CPO 51 juta ton/tahun dan PKO 5 juta ton/tahun. Selama ini konsumsi domestik 24 juta ton/tahun dan ekspor 32 juta ton/tahun. Penggunaan domestik 10 juta ton untuk pangan, 2 juta ton untuk oleokimia dan 12 juta ton untuk B40.
Yang “pertama menjerit” adalah para konglomerat Indonesia yang punya sawit luas di Indonesia, tapi industri inovasi sawit ruas hilirnya di berbagai negara luar. Karena industri milik para konglomerat tersebut akan tutup, akibat kekurangan bahan baku.
Yang patut diwaspadai, akan banyak yang “sakit hati” yaitu eksportir CPO, para konglomerat yang punya kebun sawit di Indonesia tapi industri hilirnya di luar negeri dan para Kepala Negara yang selama ini impor sawit dari Indonesia. Kadang membuat perlawanan sunyi senyap, tapi modal besar.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Anggota Dewan Pakar Sawit
HP 081586580630