Wed. May 13th, 2026

Wayan Supadno

Jumlah UMKM di Indonesia 64 juta, jika 10% nya saja atau setara 6,4 juta orang jadi pengusaha dengan memberdayakan 500 orang/pengusaha. Maka akan menyerap pengangguran minimal 30 juta orang. Total pajaknya saja bisa triliunan untuk APBN.

Pertanyaan sederhananya, bagaimana cara meningkatkan kapasitas (scale up) usaha tersebut. Bahkan, jangankan mau meningkatkan kapasitas usaha yang ada. Mau memulai usaha saja, itu mustahil, karena tiada modal, itu umumnya.

Karena merasa “tidak punya” modal. Padahal lebih dari 1.000 orang di negeri ini punya aset bisnis di atas Rp 1 triliun dan 83% berawal dari nol. Bukan pewaris bisnis, tapi perintis bisnis. Data fakta ini sangat jarang “diteliti” jadi bahan edukasi. Padahal penting terkait entrepreneurship.

Agar mudah dapat ilmu hikmah bahan pembelajaran, utamanya untuk anak muda Indonesia, berikut ini kisah nyata ;

1). Pewaris Bisnis Sukses.

Anak seorang pengusaha mapan. Disekolahkan hingga pascasarjana S2. Tentu makin matang dalam leadershipnya. Ipteknya dipraktikan dan makin inovatif agar kompetitif dalam penetrasi pasar agar pangsa pasar dan cashflownya makin besar. Usahanya berkembang pesat.

Konkretnya, dapat warisan pabrik tahu tradisional. Punya langganan banyak. Utang bank, pabriknya diganti mesin paling modern agar bisa tambah labanya. Dintegrasikan dengan ternak sapi, agar limbahnya jadi pakan berubah jadi daging sapi. Ekonomi sirkular nol limbah.

2). Pewaris Bisnis Gagal.

Seorang pemuda dapat warisan perusahaan yang sudah legendaris. Karena sejak kecil tidak mau melibatkan diri dengan bisnis orang tuanya, jadilah “mata keranjang” bisnis. Semua mau dikerjakan, tidak terukur. Gagal. Nama besar orang tuanya tinggal kenangan. Sirna begitu saja.

Konkretnya, laba dari usaha orang tuanya bukan buat pengembangan usahanya yang makin inovatif. Justru investasi usaha beda jauh. Hanya karena silau rumput tetangga nampak lebih hijau. Utang bank, parsial buat senang-senang konsumtif dan bisnis lain. Cashflow kacau. Gatot, gagal total.

3). Perintis Bisnis Sukses.

Seseorang anak keluarga sangat bersahaja. Tidak punya harta warisan. Tapi tidak mau tahu apapun alasannya harus jadi pengusaha. Targetnya 5 tahun lagi punya aset Rp 5 miliar dengan laba Rp 1 miliar/tahun. Seolah sangat tidak logis. Tapi mentalnya tidak mau menyerah. Nyalinya berani mengawali bisnis. Goal sukses.

Konkretnya, dijumpai pemilik tanah nganggur, bicara baik-baik numpang menanam cabai. Sukses. Lalu hasilnya buat nyewa lahan sawah 21 hektar ditanam padi bayar panen selama 5 tahun. Laba buat ekspansi kebun nilainya belasan miliar pada 5 tahun berikutnya. Terus berkembang.

4). Perintis Bisnis Gagal.

Sesungguhnya disekolahkan hingga sarjana oleh orang tuanya. Tapi mau mulai usaha “takut gagal”, itu terus yang menghantuinya. Padahal ada modal walaupun tidak terlalu banyak. Tapi tetap tidak berani mengawali bisnis. Alhasil “disalip di tikungan” oleh orang lain yang tanpa gelar sarjana dan tanpa modal.

Konkretnya, tanpa disadari bahwa aset termahal bukanlah modal harta. Melainkan dirinya sendiri. Bahwa modal usaha tanpa batas adalah “kepercayaan” dan ketemunya ilmu jika sambil mengerjakan/tinemune ilmu kanthi laku. Bukan hanya di buku kuliah saja.

Bahwa dalam merintis bisnis hampir tidak berlaku teori ekonomi hal profit margin, BEP, ROI, IRR dan ROA. Karena serba milik orang lain yang percaya kepadanya. Bagaimana logikanya dari “Nol Besar” modal, begitu 6 tahun asetnya bisa Rp 11 miliar lebih? Itulah bisnis. Kepercayaan modalnya. Empirik sumber ilmunya.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *