Deurbanisasi, prinsipnya menghambat proses lajunya perpindahan penduduk desa ke kota. Dekapitalisasi, prinsipnya proses menghambat penguasaan ekonomi terpusat ke kapitalis (oligarki).
Berikut ini kisah saya sendiri, dengan senang hati ikut proses deurbanisasi dan dekapitalisasi tersebut. Silahkan anak muda diambil ilmu hikmahnya, proses memahami fakta lapangan jadi pembelajaran.
Beberapa hari ini saya sibuk ikut menyeleksi pelamar di 2 SPPG/Dapur MBG saya di Banyuwangi, anggaran Rp 6 miliar. Ada 500 orang lebih pelamarnya. Yang sarjana saja ada puluhan anak muda sarjana yang melamar. Lalu saya putuskan 5 sarjana/SPPG.
Yang membuat saya haru, waktu saya kunjungan ke SPPG yang sedang finalisasi. Kades dan Perangkatnya rombongan pada lihat. Berkaca-kaca matanya, melihat ada 30 orang tukang lebih kerja 1,5 bulan ini.
Makin hanyut perasaannya setelah saya cerita habis buat gajian tukang saja selama ini minimal Rp 1 miliar dan buat belanja bahan bangunan Rp 2 miliaran dalam satu SPPG. Total habis Rp 3 miliar/SPPG.
Saya utarakan juga butuh tenaga tetap 50 orang/SPPG, 5 sarjana dan 45 non sarjana. Selain itu juga butuh supplier bahan baku pangan dari petani peternak sekitar 150 KK karena belanja tiap hari Rp 20 juta sd Rp Rp 30 juta. Harus lewat koperasi.
Begitu juga di Pangkalan Bun Kalteng. Saya membangun 3 SPPG. Butuh anggaran minimal Rp 9 miliar. Butuh tenaga kerja tukang selama ini 100 an orang. Butuh tenaga tetap total 150 orang dan supplier 450 KK untuk jadi supplier bahan baku pangan.
Total kebutuhan 5 SPPG tersebut 250 orang relawan tetap dan 25 sarjana di dalamnya. Selain itu butuh 750 KK produsen pangan baik petani, peternak, nelayan maupun pelaku UMKM. Pelamarnya di atas 1.200 orang khusus relawan saja.
Saat saya wawancara, banyak dari mereka yang mau berangkat ke kota dan luar negeri (TKI) mencari lowongan kerja. Banyak juga yang investasi peternakan ayam dan sapi perah walupun jumlahnya masih akan kurang. Inilah penjabaran lapangan dari deurbanisasi.
Proses ini juga proses meminimalkan kapitalisasi oligarki. Menekan gini rasio kesenjangan sosial. Saya yang kelas ecek-ecek bisa invest SPPG. Teman-teman juga pada invest tanam jeruk manis, ternak dan lainnya. Tidak lagi Konglomerat yang investasi.
Itu semua terjadi karena ada kepastian pasar di MBG. Sebagai stimulus pergerakan ekonomi kerakyatan agar menumbuhkan perekonomian nasional karena tegaknya pilar pertumbuhan ekonomi yaitu belanja negara, investasi swasta, konsumsi rumah tangga dan surplus perdagangan global.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630