Sun. Mar 1st, 2026

KDMP dan MBG

ByWayan Supadno

Mar 1, 2026

Wayan Supadno

Banyak masyarakat “ragu” terhadap suksesnya KDMP (Koperasi Desa Merah Putih), karena selama ini koperasi yang sukses dibanding yang gagal, terlalu banyak yang gagal. Karena mental dan moral pengurusnya, koruptif. Padahal ajaran koperasi sangat mulia.

Begitu juga MBG (Makan Bergizi Gratis) masih banyak yang dibingkai negatif dan diviralkan, bukan yang baik dan benar. Justru yang jelek. Bahkan kadang ada video rekayasa. Misal ompreng kotor diisi makanan asalan, divideokan oleh youtuber agar dapat uang masuk.

Mari kita lihat kisah nyata pada sisi lain, bahan pembelajaran kita pada dunia usaha utamanya buat anak muda, banyak ilmu hikmahnya ;

1). Pengusaha utang BPR.

Seorang pengusaha utang Bank Perkreditan Rakat (BPR). Bunganya 18%/tahun dan provisi 1%. Bukan 4% seperti di KDMP bunga bank hanya 4%/tahun, hanya setara dengan bunga deposito saja sama 4%/tahun. Beda beban pengusaha dan KDMP, 15%/tahun. Tapi pengusaha tersebut tumbuh dinamis.

Pengusaha tersebut jadi supplier yang 5 hari baru dibayar atau hanya Senin dan Kamis ada jadwal pembayaran. Praktis dana yang sama bisa dipakai 5 kali transaksi/bulan. Tiap transaksi labanya 3%, total 15%/bulan. Usahanya pemasok pabrik. Akhirnya berkembang pesat.

Pendek kata modal Rp 1 miliar labanya Rp 150 juta/bulan. Setahun dianggap cuma 10 bulan dapat Rp 1,5 miliar. Konsep inilah yang ditiru oleh KDMP tempat kebun saya. Mau jadi supplier sawit ke pabrik, dagangannya buah sawit milik masyarakat termasuk milik saya. Kadesnya sangat optimis goal.

2). KDMP Supplier SPPG.

Hampir semua desa sekarang ada Dapur MBG/SPPG dan KDMP juga. Karena melayani 2.000 porsi/hari/SPPG, anggaran belanja Rp 10.000/porsi, kontan. Praktis setara Rp 20 juta/hari. KDMP ambil laba 5% saja dari Rp 20 juta setara Rp 1 juta/hari laba KDMP. Praktis modal KDMP tanpa miliaran. Hanya Rp 20 juta diputar terus.

Selama sebulan 24 hari kerja laba KDMP Rp 24 juta. Selama setahun Rp 188 juta laba KDMP. Padahal modal cuma Rp 20 juta saja. Petani, Nelayan, UMKM dan peternak jadi mitra KDMP. Happy ending semua. KDMP tidak puas di situ saja. Terus melakukan kajian data dan penetrasi pasarnya.

Pendek kata, karena KDMP biasa melayani sembako ke SPPG. Sekalian melayani sembako masyarakatnya. Caranya mudah, tiap tanggal 1, petugas KDMP keliling ke masyarakat mendata kebutuhannya lalu disuplai. Prinsipnya jemput bola dan harga termurah. KDMP tumbuh, karena makin skill dan amanah.

Juga masih banyak peluang lain lagi yang digarapnya, karena sentra pertanian dan peternakan maka jadi distributor sarana prasana produksinya. Pupuk, herbisida, pestisida, pakan ternak dan lainnya. Prinsipnya bukan 5×2 laba 5 untuk 2 kali transaksi, tapi 2×5 laba 2 untuk 5 kali transaksi.

Ilmu hikmahnya, maju tidaknya kita bukan terletak pada seberapa modal yang kita punya. Tapi seberapa “bernilai” diri kita. Segunung emaspun tiada makna kalau tanpa bisa mengelola. Bunga bank 4%/tahun pun tiada jalan usahanya, kalah dengan yang 18%/tahun. Jika cuma sibuk mengeluh dan menyalahkan. Bukan mengembangkan dirinya.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *