Perjanjian Dagang antara AS dan Indonesia heboh di berita dan dunia maya. Kadang justru digoreng agar ramai dan dipamerkan yang bersifat lemah dan ancaman saja. “Menyembunyikan kelebihan dan peluang”.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di anggota G20. Salah satu pilar pertumbuhan ekonomi adalah surplus perdagangan internasional (ekspor neto), selain konsumsi keluarga, investasi swasta dan belanja negara.
Agar dapat ilmu hikmahnya, mari kita kupas dan menyadari, apa yang terjadi selama ini di Indonesia kita ;
Orang AS pada heran dengan Indonesia. Kok bisa ekonomi tumbuh di atas 5,11% padahal AS hanya 2% begitu juga negara maju lainnya. Lebih meradang lagi Presiden Donald Trump tahu perdagangan AS dan Indonesia defisit hingga di atas USD 13,49 miliar atau Rp 230 triliun.
Makin tidak habis pikir. Kok hebat sekali Indonesia bisa jual dengan harga murah ke AS berupa alas kaki (sepatu dll), pakaian, kopi, kakao, CPO dan lainnya. Mutlak dibutuhkan rakyat AS. Jika pajak impor dinaikkan akan jadi beban berat seluruh masyarakat AS.
Donald Trump makin jengkel lagi. Kok Indonesia hebat amat butuh gandum 11 jutaan ton/tahun. Parsial dijadikan Mie Instan (Indomie, dll). Gandum dominan impor dari Australia tapi habis jadi indomie diekspor lagi ke Australia. Kenapa tidak fokus impor dari AS saja?
Karena dasarnya Pengusaha yang jadi Presiden AS, Donald Trump membuat langkah kejut dunia. Karena punya kekuatan super dalam banyak hal. Baik militer, pasar dan kekayaan alamnya. Sisi lain, punya banyak kedelai dan BBM fosil yang harus dipasarkan. Agar petani AS daya belinya naik.
Padahal Indonesia pasar sangat besar, karena jumlah penduduknya terbanyak ke 4 di dunia. Pikirnya Donald Trump, hai Indonesia ngapain kalian impor gandum, BBM dll ke selain AS padahal kalian memasarkan CPO, sepatu, pakaian, kopi, kakao dan lainnya ke AS ?
Pendek kata, maunya Donald Trump. Jika Indonesia sudah dibaiki selama ini. Contoh sepatu, pakaian, CPO, kopi dan lainnya ditampung. Diberi ruang pangsa pasar. Nyadarlah, jangan waktu butuh gandum impornya ke Australia, waktu butuh BBM fosil impor ke Timur Tengah.
Kesimpulan, bahwa karena Perjanjian Perdagangan AS dan Indonesia tidak perlu buru-buru menanggapi dengan hati panas. Seperti Mercon saja, mudah meledak karena sumbu pendek. Ehm ! Malu apalagi jika umurnya sepuh tapi tidak makin ampuh, gelar akademik berjejer tidak kharismatik.
Bahkan kadang dijadikan kesempatan iklan reklame dan promosi agar namanya populer, caranya membuat artikel yang “mematahkan semangat” anak bangsa Indonesia. Ingat bangsa ini butuh suri tauladan dari sesepuh yang ampuh. Butuh sejuk dan solid. Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630