Sun. Mar 1st, 2026

Berikut ini pengalaman saya pribadi perihal sulitnya pengadaan mobil Pick Up saat ini. Mungkin karena terlalu besar permintaan pasar tanpa diimbangi kapasitas produksi domestik. Jadilah mobil Pick -Up Langka.

Empiris, sekitar 1,5 bulan lalu saya pesan mobil Pick Up 10 unit untuk 5 SPPG/Dapur MBG milik saya mendukung misi mulia BGN. Berbagai merek mobil, tidak ada yang sanggup dalam waktu sebulan kelar, apalagi yang ready stock.

Alhasil saya pesan ke yang sanggup. Itupun harus menunggu 1,5 bulan. Realisasinya dari 10 unit pesanan saya, baru tadi malam bisa dipenuhi 4 unit untuk SPPG saya di Banyuwangi dan 6 unit lagi untuk Pangkalan Bun Kalteng, belum realisasi.

Ilmu hikmahnya bahwa teramat sulit mencari mobil Pick Up yang siap dibeli tersebut sangat mengganggu program yang harus “disiplin tepat waktu” dengan komitmen. Mungkin itulah sebabnya PT Agrinas Pangan Nusantara (Danantara) mau impor 105 unit dari India.

Berikut penjelasan Agrinas berencana mengimpor total 105.000 unit mobil pick-up dan truk ringan dari India pada 2026 sebagai bagian program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Rinciannya 35.000 unit pick-up Scorpio dari Mahindra dan 35.000 unit pick-up Yodha dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7 dari Tata Motors. Total 70.000 unit dari Tata dan 35.000 dari Mahindra jadinya 105.000 unit.

Kenapa memilih impor dari India?

1). Produksi lokal “tidak mencukupi” untuk kebutuhan besar ini, sehingga jika diborong semua dari produksi dalam negeri dikhawatirkan bisa mengganggu industri logistik lain.

2). Harga mobil buatan India relatif lebih murah dibanding produk lokal untuk spesifikasi dan jumlah yang dibutuhkan.

3). Vendor India, seperti Mahindra dan Tata, tersedia produksi skala besar dan siap kirim cepat untuk kebutuhan operasional koperasi di desa.

Intinya Agrinas memilih impor karena kebutuhan unit sangat besar (105.000) dalam waktu cepat dengan harga yang kompetitif, sementara kapasitas sumber dari domestik dianggap tidak cocok dan tidak cukup, untuk memenuhi seluruh kebutuhan tersebut sekaligus.

Sisi lain neraca perdagangan antara Indonesia dengan India selama ini, Indonesia selalu surplus. Tahun 2025 saja, Indonesia surplus di atas Rp 220 triliun, kita diuntungkan cetak devisa hingga cadangan devisa dari India USD 13,49 miliar. Sehingga kalaupun impor 105.000 unit mobil, masih surplus juga.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *