Berikut di bawah ini adalah pengalaman saya pribadi dan orang tua saya dalam mengelola anak sebagai penerus wangsanya. Dengan misi humanis dijalankan, terbukti efektif dalam menatap masa depan. Banyak ilmu hikmahnya.
1). Saya lahir bukan dari keluarga kaya, itulah sebabnya orang tua saya transmigrasi. Masa kecil saya cukup gizi. Tiap Senin dan Kamis dapat susu gratis di SD Katholik Grajagan Banyuwangi. Puas makan sate bekicot karena dekat hutan jati, belut karena di belakang rumah sawah luas dan telur berlimpah karena punya ayam kampung sendiri Hasilnya kami seperti saat ini, kami bersaudara bisa memberdayakan masyarakatnya. Puji syukur.
2). Anak-anak saya saat ini pada pasca sarjana dan semua punya usaha mengkaryakan banyak orang. Proses pendidikan mereka cukup kami syukuri dan banggakan. Berprestasi semua. Sejak mulai dalam kandungan “tiada ragu” saya mengeluarkan dana berapapun untuk asupan yang bermutu tinggi. Mutlak. Demi masa depan panjangnya mereka.
Misi humanis adalah tujuan atau program yang berangkat dari nilai kemanusiaan: melindungi martabat manusia, mengurangi penderitaan, memenuhi kebutuhan dasar, dan memberi kesempatan hidup yang lebih layak, terutama bagi kelompok rentan.
“Fokusnya bukan semata angka, tapi manusia sebagai subjek, bukan objek”.
Manfaat Misi Humanis ;
1). Kebutuhan dasar terpenuhi (gizi, kesehatan, rasa aman).
2). Peningkatan kualitas hidup dan produktivitas
3). Rasa dihargai dan dilindungi negara.
4). Menekan kemiskinan struktural.
5). Meningkatkan kualitas SDM jangka panjang.
6). Mengurangi biaya sosial di masa depan (stunting, penyakit, putus sekolah).
7). Memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik pada negara.
Contoh konkret adalah MBG (Makan Bergizi Gratis) bersifat :
1). Dimensi humanis MBG.
2). Anak tidak diposisikan sebagai “beban anggaran”, tapi investasi manusia.
3). Mengakui bahwa anak lapar tidak bisa belajar optimal
4). Negara hadir langsung pada kebutuhan paling dasar yaitu “makan bermutu gizinya”.
Contoh konkret di lapangan :
Anak sekolah dasar mendapat 1 porsi makan bergizi/hari. Menu disesuaikan kearifan lokal (beras, telur, ikan, sayur setempat). Dapur dikelola masyarakat/UMKM lokal ada efek ekonomi secara domino kuadran.
“Humanis bukan berarti anti-logika atau boros, justru efisien secara jangka panjang”.
Bandingkan dengan biaya jika tidak dilakukan ;
1). Stunting penurunan IQ dan produktivitas seumur hidup.
2). Biaya kesehatan kronis (TBC, anemia, DM).
3). Kehilangan potensi pendapatan nasional (lost GDP).
4). Logika humanisnya “lebih murah memberi makan anak hari ini
daripada membayar kemiskinan, pengangguran, dan penyakit 20 tahun ke depan”.
Prinsip kunci agar tetap rasional tetap humanis ;
1). Targeting tepat (prioritas wilayah rawan gizi).
2). Menu lokal (murah, segar, mendukung petani).
3). Pengawasan transparan.
4). Evaluasi dampak (status gizi, kehadiran, prestasi).
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630