Peternakan sapi di Indonesia saat ini kembali bergairah. Karena kebijakannya sangat tepat dan strategis yaitu impor daging beku diminimalkan tapi impor sapi hidup dimaksimalkan hingga target 640.000 ekor tahun 2025.
Kalkulasi logisnya, seorang sahabat impor sapi 400 kg/ekor digemukkan 100 hari biaya Rp 5 juta. Bobotnya jadi 550 kg, dijual laku Rp 27,5 juta/ekor. Laba bersih Rp 2,5 juta/ekor. Bisa dibayangkan jika impor hingga 20.000 ekor/tahun/importir. Begitu implikasi ke keluarga besar perusahaannya.
Efek dominonya tercipta lapangan kerja 1 orang tiap 20 ekor mulai hulu hingga hilir. Supplier pakan misal gaplek, hijauan jagung muda, bungkil kelapa maupun sawit dan lainnya. Rumah potong hewan (RPH) dan industri turunannya.
Nilai tambahnya mulai kapal muat sapi sandar di pelabuhan hingga di konsumen akhir jadi bakso, rendang dan rawon. Minimal Rp 10 juta/ekor. Jika 640.000 ekor yang diimpor setara Rp 6,5 triliun/tahun. Lapangan kerja tercipta minimal 32.000 orang.
Importir sapi adalah pelaku usaha yang mendatangkan sapi hidup, biasanya sapi bakalan untuk digemukkan dan sapi betina calon indukan dari negara lain ke Indonesia, seperti dari Australia.
Manfaat adanya importir sapi ;
1). Menjaga ketersediaan daging. Produksi sapi lokal belum mencukupi kebutuhan nasional. Membantu kekurangan pasokan, terutama saat Idul Adha, Ramadhan dan Idul Fitri.
2). Menstabilkan harga pasar. Jika pasokan kurang, harga bisa melonjak tajam. Impor bisa meredam kelangkaan dan kenaikan harga.
3). Memberi bahan baku ke peternak dan RPH. Sapi impor digemukkan oleh peternak lokal (feedlot), lalu dijual ke rumah potong hewan (RPH).
4). Menggerakkan industri terkait. Transportasi, pakan ternak, rumah potong hewan, distribusi, dan perdagangan semua terbantu oleh masuknya sapi impor.
Kerugian jika tidak ada importir sapi ;
1). Kekurangan pasokan daging. Produksi dalam negeri masih belum bisa memenuhi total permintaan daging nasional masih kurang 55%.
2). Lonjakan harga daging. Permintaan tinggi, pasokan terbatas, harga naik. Bisa menekan daya beli masyarakat, utamanya menengah ke bawah.
3). Rawan penimbunan atau spekulasi. Saat stok daging sedikit, oknum bisa menimbun atau bermain harga. Selain merusak sistemik ekonomi, juga meresahkan masyarakat.
4). Imbas ke sektor usaha. Pedagang daging, restoran, katering, bahkan usaha mikro akan kesulitan bahan baku atau harus menanggung biaya tinggi.
5) Ancaman inflasi pangan. Daging sapi adalah salah satu komponen penting dalam inflasi harga bahan pangan. Kekurangan bisa memicu inflasi yang lebih luas.
Kesimpulan ilmu hikmah, bahwa jika iklim usaha kebijakan pemerintah tepat dan strategis maka akan sangat merangsang pelaku usaha untuk ekspansi. Implikasinya tercipta lapangan kerja, pajak untuk negara dapat, daya beli masyarakat naik dan lainnya.
Salam Mandiri 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630