Wed. Jan 14th, 2026

Empiris.
Tahun 2003, saya dinas di Pekanbaru Riau. Saat itu ada usaha RS Satya Insani dan beberapa klinik apotek. Ada juga usaha kebun sawit maupun perumahan. Semua berjalan dengan baik, cashflow sehat.

Saat itu, saya baca di Majalah Trubus. Ada topik menarik penuh inspirasi yaitu Warso Farm, tempat ideal bagi penikmat buah durian. Saya kaji dengan daya nalar analisis penuh kejelian. Luar biasa kalkulasi logisnya.

Saya survei pasar durian. Ada beberapa toko buah segar termasuk supermarket di kota Pekanbaru. Betul durian montong kekurangan pasokan hingga impor jumlah besar dan rutin jangka panjang.

Saya tanya andai ada apa bisa ditampung, kontan pimpinannya mengajak ke ruangan tanya kepastiannya. Ingin tahu detailnya berapa ton bisa suplai sebulan, harga berapa dan seterusnya. Intinya sangat butuh durian montong.

Saya tidak berhenti di situ. Disempatkan ke Bangkinang, 1 jam dari Pekanbaru. Sentra buah durian lokal. Saya jumpai beberapa petaninya. Saya tanya omzetnya, ternyata usia 10 tahun minimal Rp 9 juta/pokok/tahun. Itu pun diborongkan ke tengkulak.

Lalu saya ukur kanopi pohon besar produktif, radiusnya sekitar 7 meter. Artinya jarak tanam ideal bisa 12 x 12 meter atau 70 pokok/ha. Jika umur belasan tahun hingga puluhan tahun. Omzetnya bisa Rp 600 juta/ha/tahun. Hemm, setara 15 ha sawit.

Tanah kosong di daerah Bangkinang masih luas. Agroklimat pas untuk durian. Juga tidak mahal, Rp 12 juta/ha. Andaikan beli 50 ha bisa. Andaikan ditanam durian montong juga pasti ada penampungnya sesuai hasil intelijen pasar yang saya lakukan.

Rencana investasi durian pun sudah dikaji matang oleh staf – staf saya. Tim yang mau mengelola di lapangan dari ” Kampung Durian Bangkinang ” juga ada yang sanggup mengelola. Tiada hari tanpa cerita mau membangun kebun durian.

Alhasil batal memulai. Batal semua. Hanya banyak cerita, bancritkata orang Riau. Salah saya sendiri, terlalu banyak pertimbangan dan menunda – nunda. Hanya meninggalkan ilmu hikmah betapa pentingnya mengelola momentum dan berani mengawali.

Saya kira semua pekerjaan kita sama juga. Sapi, misalnya. Jika hanya dipikirkan dan dibahas melulu sampai ngilu pun. Tanpa beternak pembiakan ( breeding ), maka tiada beranak pinak. Tetap saja makin besar jumlah impornya, daging dan sapi dari Australia.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *