Paling klasik dan sering ditanyakan ke saya, saat seminar atau mengajar kuliah umum hal entrepreneurship di berbagai perguruan tinggi atau kegiatan lainnya. Pertanyaan oleh kawula muda atau masyarakat luas yang mau jadi pelaku usaha.
1. Bagaimana proses mengawali usaha yang sekaligus jadi tentara, tanpa modal karena anak keluarga transmigrasi ?
2. Bagaimana mengatur waktu, tenaga dan pikiran agar semua bisa berjalan sesuai harapan ?
Hal paling pertama dan utama bahwa kita harus menyadari bahwa selama ini. Sebelum punya usaha. Sebelum jadi pengusaha. Bahwa kita ” ternyata dibelenggu ” oleh diri sendiri. Belenggu itu sangat kuat. Hingga kita tidak bisa bergerak memulai usaha.
Belenggu diri itu meliputi ;
1. Merasa tidak punya ilmunya karena kuliahnya bukan di bidang usaha tersebut, bahkan hanya lulusan SLTA misalnya.
2. Merasa tidak punya waktu karena sudah sangat sibuk dengan jadwal kesibukan rutin harian tiada henti.
3. Merasa tidak punya modal karena terlahir di keluarga tidak mampu atau karena mencoba usaha justru habis tabungannya karena merugi.
Masih banyak belenggu diri yang sengaja kita buat agar ada alasan tidak berbuat. Tapi keinginannya justru sebaliknya. Misal ingin punya perusahaan labanya besar agar bisa merekrut banyak pengangguran, membayar pajak besar dan rutin. Cetak devisa karena memasarkan hasil petani diekspor.
Bahkan ingin bisa menyumbang tempat suci megah memuliakan asma Tuhan. Menyumbang anak yatim piatu, orang tua jompo dan lainnya. Hingga mimpinya ingin jadi donatur abadi jika ada anak cerdas tapi tidak mampu ekonominya. Banyak lagi mimpi indahnya.
Untuk melepas belenggu diri tersebut, agar bisa cepat tuntas. Berani mengkaji ulang waktu tersita selama ini dengan pertanyaan – pertanyaan untuk diri sendiri juga. Atau mengawali konkret rendah hati yang sesungguhnya, bukan rendah hati yang dikemas belaka agar tidak nampak.
1. Loh kok tidak terasa tahu – tahu sudah hari minggu lagi.
2. Loh kok tidak terasa tahu – tahu tanggal 1 lagi.
3. Loh kok tidak terasa tahu – tahu tahun baru lagi.
4. Loh kok tidak terasa tahu – tahu anak satu lagi.
5. Loh kok tidak terasa tahu – tahu anak semester 1 lagi dan seterusnya.
Begitu juga pertanyaan kepada diri sendiri. Atas kajian ke pihak lain, misal ;
1. Bukankah Mr X, juga hanya lulusan SMA tapi kok bisa karyawannya 300 orang lebih dan 100 orang lebih sarjana, bahkan ada 12 orang lulusan pascasarjana S2 ?
2. Bukankah Mr Y, anak keluarga miskin ? Bahkan belasan tahun silam masih bukan siapa – siapa. Apapun tiada punya. Siapapun tiada memandangnya. Terbalik dengan saat ini.
Lalu kenapa mereka bisa. Ternyata semua punya kesempatan sama. Hanya mau atau tidak melepas belenggu diri agar bisa bergerak memulai. Mau atau tidak ATP atau ATM. Amati Tiru Plek atau Amati Tiru Modifikasi dari contoh yang ada di kelopak mata Mr X dan Mr Y tersebut.
Salam Berdikari 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630