” Soyo sepuh, soyo ampuh. Ora soyo sepuh, soyo rapuh “. Kalimat di atas adalah pesan orang di kampungku puluhan tahun silam saya dapatkan. Arti gramatikalnya makin tua makinlah matang dewasa bijak, bukan makin tua makin kekanak – kanakan, karena seperti anak kecil. Maunya dianggap selalu benar, padahal itulah letak salah yang sebenar – benarnya. Salah mutlak, jika menganggap dirinya, selalu paling benar.
Kebetulan saya lahir dari keluarga sangat bersahaja, di kampung kecil di Banyuwangi selatan. Berbatasan langsung dengan hutan jati milik PT Perhutani pada sebelah selatan, barat dan utara. Kondisi ini membentuk pribadi harus mau berjuang, tanpa perjuangan tanpa kemenangan. Artinya jika waktu itu menyerah tidak seperti hari ini. Tanpa tahu rasanya studi di perguruan tinggi dan implikasinya jangka panjang hingga saat ini.
Pesan pada judul di atas, maksudnya agar proses menjalani kehidupan ini harus ada perubahan dari waktu ke waktu. Proses pembelajaran tiada henti. Tiap langkah berlalu dikaji ulang diambil ilmu hikmahnya. Jika salah jangan diulangi, jika benar dilanjutkan dan dikembangkan. Mulat sariro, ngrogoh sukmo/mawas diri yang sedalam – dalamnya diskusi dengan hati sendiri. Agar tahu diri. Lalu mengembangkan potensi diri. Ngulir pambudi.
Itulah kunci pintu gerbangnya. Mau mawas diri, agar tahu diri, untuk mengembangkan diri sehingga migunani/bermanfaat bagi selain diri sendiri. Biasa orang Jawa menyebutnya ” Urip iku urup “. Adanya urip iku urup, karena uripnya diurip – uripi/adanya hidup karena dihidup – hidupkan/disematkan bayu nya. Hingga urip jadi urup, menerangi sekitarnya. Bermanfaat nyata dirasakan orang lain.
Itulah sebab kesuksesan seseorang ” tidak selalu linier ” dengan tingginya pendidikan formal seseorang. Ada yang justru berpendidikan formal tinggi sekali jadi beban, bukan jadi jalan pintas untuk mewujudkan impian. Konkretnya, sekitar 3 tahun silam ada 3 orang tamu saya lulusan pascasarjana S3 Kampus ternama, tapi pamit mau ke luar negeri memetik apel. Karena lelah mencari lowongan pekerjaan di Indonesia terlalu sulit.
Sebaliknya, banyak kisahnya nyata. Orang sukses jadi tokoh masyarakat non formal. Misal pengusaha, hanya lulusan D3, SMA bahkan SMP saja. Hingga mampu mengkaryakan ratusan hingga ribuan orang dari tidak produktif hingga produktif. Pendidikan formal yang dikaryakan banyak lulusan pascasarjana. Bahkan banyak yang gelarnya Doktor, hidupnya dibuat makmur sejahtera oleh orang yang hanya lulusan jauh di bawahnya.
Itu terwujud karena ” rendah hati dalam praktik hidup ” nya. Karena mau tahu diri lalu memberdayakan diri / ngulir pambudi. Karena selalu menggenggam erat pedoman hidup, tali tambat ke puncak harapan agar bisa mewujudkan ” soyo sepuh, soyo ampuh “. Terus membuat perubahan dari hari ke hari. Bagai mengukir dirinya sendiri agar makin indah disandang/dipakai dan makin indah pula dipandang oleh pihak lain.
Sejak usia saya 50 tahun, baru saya sadari. Sungguh sangat bermanfaat petuah wejangan kuno di kampungku di masa kecil dan remaja dulu kala. Tidak sia – sia, saya dulu begadang hingga larut malam. Baru sekarang sadar, ternyata hidup ini bagai menjalani studi tiada akhir di Universitas Kehidupan, Fakultas Ilmu Hikmah. Tujuan pendidikannya agar urip iku urup, hidup itu bermanfaat bagi orang lain dan alam semesta.
Artinya penjabaran dari ” Kasih sayangi yang di bumi, niscaya yang di langit akan mengasih sayangimu juga “. Sepadan linier dengan ” Sebaik – baiknya manusia, di antara yang mampu memberi manfaat bagi orang lain “. Ini baku. Bukan yang sebaliknya, sarwo waton suloyo/serba terlihat salah bagi orang lain dan serba benar yang ada pada dirinya. Karena salah khilaf bisa menghinggapi siapa saja, tanpa kenal usia.
Kesimpulan :
1. Tidak perlu silau apalagi iri dengki dengan pihak lain. Apalagi hanya karena dirinya punya predikat gelar formal lengkap karena pertanda lengkapnya pendidikan formal yang sudah dijalani, lalu bebas menghakimi selalu salah di orang lain dan selalu benar pada dirinya. Itu sesungguhnya belum cukup. Karena orang lain lagi banyak yang telah studi juga di Universitas Kehidupan, Fakultas Ilmu Hikmah. Nilai raportnya pengakuan sosial dan fakta penghidupannya, bermanfaat atau tidaknya bagi orang lain lagi. Begitu juga sebaliknya, apresiasi kepada pendidikan formal sangat penting. Bersinergi. Penuh syukur.
2. Akan makin jauh bermakna hidupnya, jika berlatar belakang pendidikan formal tinggi tapi juga diiringi paralel dengan studi pada Universitas Kehidupan, Fakultas Ilmu Hikmah. Artinya dijalani beneran. Ilmunya dipraktikan. Hidupnya dihidup – hidupkan dengan bayu antusias. Agar daya manfaatnya nyata. Bukan sekedar hidup. Bukan sekedar asal dapat ijazah dan gelar. Harus ada bukti nyata di lapangan dampak implikasi nyata dari ijazah dan gelarnya. Baru pas. Penuh syukur.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630