Sungguh, saya sangat bersyukur ada beberapa kawula muda kini sukses jadi pengusaha. Dulunya mereka ada yang karyawan perusahaan dan bahkan ada juga yang menganggur. Mengaku karena terinspirasi, termotivasi dan teredukasi oleh saya, ketularan saya.
Mereka pada merasa lebih bahagia dibandingkan sebelumnya, sebelum jadi pengusaha. Setidaknya mengkaryakan beberapa pengangguran dan ratusan kepala keluarga petani jadi plasma pemasok barang dagangannya ke eksportir.
Memenuhi permintaan global tapi produksi lokal. Hukum Pasar, permintaan naik tapi pasokan tetap maka harga naik. Petani juga dapat berkahnya. Negara juga dapat pajak dan devisa. Perekonomian masyarakat juga tumbuh dinamis, bisa buat biaya hidup, angsuran rumah dan motor.
Tapi di balik itu masih sangat banyak yang gagal. Mereka gagal karena hanya dihafal, seolah cukup lulus kata – kata mutiara nuansa motivasi. Hingga suatu acara seminar saya uji tulis. Hem, banyak nilainya A semua. Tapi ikut seminar lagi karena ingin jadi pengusaha.
Semalam, seharian saya kedatangan tamu rombongan dari Alumni Pascasarjana Bisnis IPB University. Beragam ada lulusan S1, S2 dan S3 (Doktor). Sangat membahagiakan. Kami saling berbagi kisah. Saling mendukung agar menjadi pengusaha, untuk Indonesia kita ini.
Di antaranya ada 5 orang mau jadi eksportir. Sebanyak 2 orang sarjana, 1 orang S2 dan 2 orang lulusan S3. Lalu saya telepon Mas Putra/Eksportir yang sangat peduli petani maupun kawula muda dan rendah hati. Agar dibina juga, dijadikan eksportir juga.
Mas Putra dulu, 4 tahun silam bukan siapa – siapa. Maaf, masih mengurus sapi bersama saya. Loyal total dengan saya, hingga sekarang. Sering ke rumah saya di Cibubur. Jika ada permasalahan misal kurang barang dagangan ekspor agar disuarakan ke komunitas petani. Hebat, salut saya.
Tiada merasa tersaingi jika mengkader banyak eksportir lagi. Juga bukan jualan ilmu. Karena ke GR an merasa dibutuhkan misalnya. Gratis. Kadang mengeluarkan kalimat ledekan dari saya zaman dulu. Agar bangkit, ngulir pambudi. Memberdayakan dirinya, baru bicara memberdayakan orang lain.
Pagi ini mulai diklat magang di kantornya Mas Putra, 15 menit dari rumah saya Cibubur. Saya wajibkan kepada 5 orang tersebut agar sedekah terlebih dulu, 7 bungkus nasi. Kepada para yatim piatu dan orang tua jompo. Di sanalah banyak do’a sering khabul.
Ajaran orang kampung di Banyuwangi puluhan tahun silam, masih saya praktikkan. Awali memberi terlebih dulu, agar diberi juga oleh Nya. Ibarat menabur benih rezeki agar tumbuh pohon yang akan memberi rezeki buah rutin banyak jangka panjang.
” Supados khabul kajate, mandi pangucape / Terwujud hajatnya, bersukma doanya. “
Membentuk pengusaha sangat sulit, karena dominan terkait yang bersangkutan. Di antaranya ;
1. Mentalitas.
Artinya jadi atau tidaknya tergantung total mental punya nyali mengawali atau tidak. Contoh, percuma Nilai IPK tinggi cumlaude, jika tidak berani mengawali. Hanya dipahami dan dihafal saja. Hanya pandang – pandangan dengan foto wisuda yang dipajang di ruang tamu saja.
2. Karakter.
Ini sangat penting, maka harus tiada henti membangun karakter. Contoh, jadi industriawan off taker atau eksportir. Tapi tidak disiplin membayar ke petaninya. Akan bubar tidak punya dagangan. Dibantu bank, tapi disalahgunakan ke konsumtif. Macet. Habislah.
3. Kapasitas.
Ini juga tidak kalah pentingnya, inilah alasan mendasar kenapa kita harus belajar hingga kuliah. Agar mumpuni kemampuannya. Contoh, dapat KUR dari BRI. Tanpa estimasi cashflow pada pra investasi. Rugi. Macet. Masuk blacklist BI Checking seperti petani milenial Jabar, banyak sekali.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630