Perintis usaha/pengusaha pemula (startup) harus memahami tentang pentingnya estimasi cashflow/arus kas. Ini saya sampaikan karena saya jumpai beberapa startup yang lagi kacau usahanya. Saya kaji, ternyata akibat tidak menguasai ilmu estimasi cashflow kegiatan bisnisnya.
Saya perhatikan hanya sebatas rencana anggaran belanja (RAB) saja. Pada kegiatan bisnisnya, terutama pada investasinya. Padahal inilah ibaratnya sebuah negara adalah APBN, atau sebuah daerah adalah APBD nya. Sarana panduan dan kontrol keluar masuknya dana yang akan terjadi.
Sama persis pada suatu kegiatan di Perguruan Tinggi bekerja sama dengan SUSS Singapura. Saat Lomba Ide Gagasan Bisnisnya. Karena saya salah satu dewan penguji. Saya tanya hal estimasi cashflow pada gugup. Apalagi ditanya sumber dana ke depan dan cara mendapatkannya.
Karena erat kaitannya dengan analisa data hasil intelijen bisnisnya, sebelum membuat proyek bisnis industri. Ini hal sangat mendasar. Jika ini tidak punya maka akan sama persis dengan jalan di kegelapan malam hanya dengan meraba saja. Risikonya sangatlah tinggi bagi sebuah investasi bisnis.
Contoh ;
A. Mau mendirikan pabrik karbon aktif berbahan baku arang tempurung kelapa. Untuk baterai, pembersih air dan lainnya. Memang sangat marketable, utamanya di pasar global negara maju. Tapi jika tanpa punya hasil analisa intelijen bahan baku. Baik kualitas, kuantitas dan kepastian jangka panjang.
Maka tidak tahu harga pokok produksi (HPP) nya, yang terfiksasi. Juga tidak tahu profit margin yang akan didapat dan kapan kembalinya modal investasi (ROI) nya. Akan merembet lagi, juga tidak akan tahu seberapa mampu bisa bersaing. Toleransinya terhadap tekanan kompetitor.
B. Mau membuka atau membangun kebun buah tropis. Misal durian, alpukat, jeruk dan lainnya. Mutlak mesti tahu estimasi cashflownya. Bukan hanya RAB saat membangun kebunnya saja. Data ini harus bernuansa ekonomi matriks, mengolah data empirik yang telah terjadi.
Jika tanpa estimasi cashflow, maka bisa jadi akan sangat tidak menarik jika terlalu lama ROI nya, tidak rasional apa adanya. Begitu juga sebaliknya, akan jadi gegabah sembrono jika berlebihan penyajiannya. Keduanya ancaman serius bagi pengusaha yang mau investasi.
Contoh konkret pada pengalaman saya pribadi 16 tahun silam.
Mendirikan pabrik karbon aktif. Rencana pemasaran ke Eropa karena permintaan pasar terlalu besar dan produsen di Indonesia pada komoditas ini sangat sedikit. Kajiannya bekerja sama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
Saat diuji produksi dengan bahan baku tempurung sawit/cangkang sawit, sebanyak 40 ton. Saat diekspor ke Eropa ternyata ditolak mentah oleh pasar. Alasan utama tidak organik. Kerugian yang timbul itu saja Rp 465 juta. Belum pabrik dan lainnya. Gagal, akibat tanpa estimasi situasi. Dapat ilmu hikmah luar biasa bernilainya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630