Hukum kekekalan peluang sama persis dengan hukum kekekalan energi. Tiada kan mungkin dalam sebuah situasi, termasuk situasi terancam tanpa menyembunyikan peluang usaha/bisnis. Selalu ada. Sama persis energi, bersifat kekal. Hanya saja mau dan mampu tidak menangkap peluang tersebut.
Percepatan menangkap peluang usaha itulah biasa disebut intuisi atau naluri bisnis. Tanpa dikenalkan tahu sendiri, itu arti naluri. Naluri bisnis, tanpa terlebih dulu memberdayakan daya nalar analisis, tapi nalurinya bisa tahu duluan. Barulah dibuat kajian mendalam.
Contoh ;
1. Pupuk NPK langka.
Dampak perang Rusia Ukraina, pupuk kimia NPK langka dan mahal. Bagi yang punya naluri bisnis, langsung take action, memberdayakan limbah ternak di kampungnya yang berlimpah. Diperkaya mikroba Bio Extrim dan Hormax. Laris manis. Petani dapat laba besar, tidak lagi terancam.
Saya pun dapat berkahnya, hanya mengajari sebentar cara membuat pupuk super duper organik diperkaya hayati mikroba biangnya Bio Extrim, Organox dan Hormax formula saya. Lumayan pesanan rutin banyak curah agar murah meriah. Pada pesan ke Reni HP 087781889797 dan David HP 081219929262.
Ini karena kita mau melakukan tindakan plus nuansa edukasi inovatif ke publik. Digiring opininya masyarakat agar tidak hanya mengeluh saja, tapi berbuat nyata yang bersifat solutif. Implikasinya limbah ternak dulu berlimpah tidak laku. Tapi saat ini dianggap komoditas bernilai tinggi.
2. Sapi Bima meluber.
Karena kiriman sapi ke Jabodetabek tidak lazim naiknya. Tahun 2022 hanya 21.000 ekor. Tapi tahun 2023 sebanyak 28.000 ekor saat menjelang Idul Adha. Plus sapi dari Jatim, Madura dan Jateng juga kirim ke Jabodetabek. Imbasnya tidak terserap pasar 13.000 ekor.
Adanya ancaman ribuan ekor sapi Bima terlantar di Jabodetabek. Jadi peluang bagi peternak di Lampung, Jambi, Palembang, Riau dan Sumbar. Begitu saya buat artikel dan video sekejap diserap besar – besaran. Karena pengiriman ke Sumatera tidak serumit kalau mengirim sapi ke Kalimantan, misal saya sendiri.
Ini juga terjadi karena respon cepat saling koordinasi. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Bapak H. Arief Prasetyo beserta Direkturnya, koordinasi dengan Ditjen Peternakan Kesehatan Hewan Kementan, Badan Karantina dan Peternak. Termasuk saya ikut. Hingga larut malam zoom meeting.
Kebahagiaan tak ternilai bagi saya. Melihat sapi – sapi dari Bima. Begitu masuk kandang sapiku di Pangkalan Bun Kalteng. Lahapnya luar biasa dapat makanan hasil riset dari UGM Yogyakarta yaitu Rumput Gama Umami. Karena memang saya tanam puluhan hektar. Agar pasti ada berlimpah pakan bermutu proteinnya 16%, biomassa 700 ton/ha/tahun. Logisnya 1 ha bisa menghidupi 70 ekor sapi Bima.
3. Buah Naga tidak laku.
Beberapa tahun silam. Di Banyuwangi sentra buah naga, ada video panen buah naga tapi pada dibuang ke sungai. Kebunnya pada dibabati, karena kapasitas produksi melampaui daya serap pasar. Mengerikan sekali, karena banyak yang menangis histeris. Lalu saya membuat video singkat viral di medsos hingga sampai Istana.
Bagi pebisnis yang suka melakukan intelijen pasar dan suka rekayasa pola pikir kreatif inovatif. Kontan koordinasi ke Amerika Serikat dan Uni Eropa. Diekspor buah segar gagal karena terlalu besar kadar airnya. Kalah harga dengan buah naga dari Vietnam yang jauh lebih murah. Tidak mau kalah, lalu cari akal.
Kulitnya dijadikan keripik vakum. Buahnya dijadikan powder agar siap seduh ke air hangat atau es ke dalam gelas, diaduk tinggal disantap segar alami luar biasa. Di luar dugaan sangat marketable. Apalagi pada kemasannya produk ini organik dan 100% hasil karya masyarakat pedesaan.
Masyarakat tersebut yang butuh sentuhan humanis, itu narasinya. Mereka pejuang keluarga dan alam sekitar melalui budi daya. Bukan yang menggali tambang. Sehat, segar dan banyak manfaat luar biasa baiknya. Sekali lagi, sentuhan dengan narasi bisnis nuansa humanis sering kali berdampak besar solutif.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630