Seorang sahabat mengabari saya dan sekaligus minta izin. Saya yang cipta kondisi agar mahasiswa pascasarjana dan sarjana dapat asupan ilmu hikmah langsung dari pelakunya. Praktisinya. Langsung dapat undangan agar bisa mengajar di Kampus Top, membanggakan.
Tapi merasa ” pekewuh ” karena menyadari dirinya bukan siapa – siapa kalau dilihat pendidikan formal hanyalah lulusan SLTA dan jabatannya tiada. Tapi ” punya pengalaman istimewa “. Sekitar 4 tahun lalu mengaku masih angon sapi ibaratnya. Tapi saat ini jadi eksportir.
Saya tahu persis masa lalunya. Karena memang bersama saya. Membangun kandang sapi dana CSR untuk masyarakat sekitar di perusahaan pabrik semen. Sekarang telah jadi ratusan ekor. Milik masyarakat dan pensiunan karyawan. Menempati lahan bekas tambang semen.
Tapi saya juga tahu bahwa kawula muda, utamanya kaum terpelajar apalagi mahasiswa. Sangat butuh asupan kisah inspiratif dari nol jadi eksportir. Kantornya boleh untuk jadi tempat magang mahasiswa. Berbagi ilmu tanpa batas dan tanpa kenal pamrih.
Yang teramat bernilai adalah detail proses cara – caranya. Dari latar belakangnya, maksud tujuannya, cara mengawalinya, ilmunya dari mana, modalnya juga bagaimana dan seterusnya. Hingga konkret jadi sosok pelaku usaha perdagangan antar negara dalam kurun waktu hanya 4 tahunan.
Padahal yang punya ilmunya karena kuliah tinggi – tinggi dan punya modal banyak dari warisan. Belum tentu bisa mewujudkan diri seperti sahabat saya tersebut. Kejadian seperti ini banyak sekali di negeri ini. Seolah ada tabir yang perlu dibedah dan apa solusi konkretnya.
Empiris.
Saya bisa jadi pebisnis, petani dan peternak maupun peneliti. Tahu caranya mengawali bisnis karena menyimak cara orang lain mengawali bisnis juga. Tahu cara mengelola usaha jarak jauh tetap terkendali bertahun – tahun juga berkat terinspirasi cara orang lain.
Terpikir oleh saya. Andaikan ada 10.000 pengusaha yang giat dan gemar berbagi kisah nyata. Di hadapan para kawula muda mahasiswa misalnya. Lalu tiap pengusaha berdampak jadi 1.000 pengusaha baru terlahir karena terinspirasi. Maka setara 10 juta pengusaha baru.
Lalu kalau tiap pengusaha merekrut 15 orang saja pengangguran. Maka setara terserap 150 juta orang. Habis pengangguran, bahkan banyak yang pakai robot atau impor tenaga asing. Dampak lain lagi APBN pasti menjulang tinggi akibat pembayar pajak jumlah besar makin jamak.
Masih banyak multiplier effects lainnya. Pemberdayaan masyarakat sekitar jadi plasma dan suppliernya. Pemberdayaan sumber daya alam, pemberdayaan serapan hasil riset agar jadi inovasi lalu membendung impor atau mencetak devisa. Ekonomi tumbuh dinamis dan terdistribusikan, menekan angka gini rasio.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630