Jadi perintis bisnis/pengusaha pemula/startup memang tidak mudah. Teramat sulit. Walaupun misinya mulia karena mau cipta lapangan kerja jumlah banyak agar para pengangguran produktif, membayar pajak jumlah banyak rutin jangka panjang untuk membangun bangsa lewat APBN, cetak devisa dan lainnya.
Dari 2.400 startup, 99% gagal bangkrut. Padahal terbanyak ke 6 di dunia. Melampaui Jerman dan Perancis. Menandakan makin besarnya minat jadi pengusaha. Sejalan dengan kesadaran anak muda, pentingnya memberi solusi menekan kemiskinan, pengangguran dan rasio gini.
Bahkan data di IPB University yang dirilis oleh Rektor IPB University Prof. Arif Satria, dari semua mahasiswa baru masuk ada 43% (terbanyak) mau jadi pengusaha, 41% mau jadi profesional, 10% mau jadi birokrat dan 6% mau jadi peneliti (paling sedikit). Pada opini Kompas, 23 Juni 2023.
Empiris..
Titik – titik kritis fase merintis bisnis ;
1. Belum punya ilmunya.
Karena bukan berlatar belakang sarjana apalagi master atau lulusan pascasarjana pada bidang bisnis, pertanian, peternakan, farmasi dan formulasi mikroba (pupuk hayati). Tapi harus mumpuni mengelola bisnisnya sendiri. Konsekuensi logis harus bersimbiotik dengan yang punya ilmunya.
2. Belum punya modal banyak.
Karena memang berawal dari nol, dari keluarga sangat sederhana tanpa warisan harta. Tapi harus bisa menggerakkan perusahaan yang dimilikinya. Jadi manajer keuangan tanpa ada uangnya. Harus ada transaksi mencetak laba agar terakumulasi jadi modal usaha dan investasi produktif.
3. Terbatas waktu, keterampilan dan lainnya.
Semua nyaris membatasi. Lalu terlalu sibuk misal memasarkan, memproses produksi dan mencari bahan bakunya. Logisnya mesti bersimbiotik dengan orang lain yang ada tenaga, waktu dan keterampilan. Konsekuensinya harus mengapresiasi wujudnya upah/gaji/bagi hasil.
4. Kontrol cashflow.
Terpenting dari semua titik kritis masa merintis bisnis adalah pengendalian arus kas (cashflow). Karena inilah nadi bisnis. Gagal mengelola cashflow maka di situlah awal semua masalah akan tercipta. Akan gagal bangkrut. Itu pangkal masalahnya.
Sehingga dibutuhkan mentor berpengalaman mengelola bisnis. Perenang jadi pelatih bagi yang mau jadi perenang, itu ibaratnya. Agar tetap bisa berenang, jika mau tenggelam ada yang mengamankannya. Antisipasi. Perannya yang akan mengawal dan mendampingi pada fase awal berbisnis.
Contoh konkret ;
Bagaimana agar tidak mata keranjang bisnis semua mau dikerjakan lalu keteteran dampaknya cashflow tidak sehat. Bagaimana cara penetrasi pengembangan pasar yang akan membangun cashflow mencetak laba agar aset kapitalnya makin besar dan produktif.
Bagaimana cara mengatasi kesulitan kurangnya modal dasar pengalaman, justru saat pasar telah berpihak sehingga pelanggan tidak kecewa. Bagaimana cara mengelola manusia pendukungnya, tim suksesnya, sebagai aset termahalnya agar loyal total terlahir kesadaran berkontribusi.
Ini semua sangat penting pada fase tumbuh, fasenya sangat kritis saat merintis bisnis. Empiris pribadi saya sendiri.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630