Mon. Mar 2nd, 2026

Tahun 2009, di Jonggol Bogor saya sewa lahan terlantar cadangan perumahan milik perusahaan, seluas 21 hektar. Tandus sekali. Saya cetak ulang jadi sawah dengan membangun jalan, irigasi dan remediasi agar harga pokok produksi (HPP) jangka panjang murah. Banyak yang meledeki katanya saya gila, non logis. Tidak ada.

Tahun 2012, di Pangkalan Bun Kalteng saya menanam buah naga seluas 37 hektar. Di lahan pasir total dan bekas tambang. Banyak yang mencibirkan bibir. Katanya, pekerjaan saya tidak logis. Dalam hati saya, yang penting endingnya. Sing penting nyatane. Inovasi remediasi yang menguatkan saya.

Tahun 2014, di Pangkalan Bun Kalteng saya menanam Jeruk Madu Chokun seluas 16 hektar. Di lahan berpasir, bahkan sebagian lahan bekas tambang emas tradisional oleh masyarakat. Banyak komentar sumbang karena belum ada sejarahnya di daerah tersebut yang menanam jeruk.

Sejak 2012, secara bersamaan menanam kelapa sawit di Pangakalan Bun Kalteng juga. Jauh lebih luas lagi dari buah naga dan jeruk madu tersebut. Lahan ini lebih ekstrim lagi tandusnya karena berpasir dan bekas puyak penambangan emas oleh masyarakat luas. Tandus sekali. Bukan lahan subur hutan belantara.

Karena saya pecinta berat terhadap kelestarian lingkungan hidup. Maka menerapkan inovasi remediasi. Yang banyak diterapkan di Negara Timur Tengah, Israel dan Ethiopia. Mengubah lahan tandus gersang jadi subur hijau alam lestari sebagai lumbung pangan dunia yang berkelanjutan.

Hingga negara Ethiopia peringkat ke 12 di Dunia, sebagai negara dengan ketahanan pangan berkelanjutan. Ini sangat mengagetkan masyarakat seisi bumi ini. Wajar sekali, karena tahun 1983 sd 1985 di Ethiopia dilanda kelaparan korban jiwa jumlah besar. Diagonalis positif, dari minus jadi plus soal pangan karena inovatif.

Sayangnya, Indonesia yang dulunya ikut membantu beras dan petugas penyuluh pertanian di Ethiopia saat dilanda kelaparan, tapi saat ini Indonesia yang katanya subur luas disalip oleh Ethiopia yang tandus gersang. Karena Indonesia baru peringkat ke 63 di Dunia. Karena Ethiopia mau konsisten implementasi inovasi remediasi.

Karena sudah punya hak kekayaan intelektual sendiri. Bisa membuat formula hormonal Hormax. Pupuk organik Organox. Pupuk hayati Bio Extrim dan biopestisida Bomax. Maka hanya butuh pupuk kandang jumlah banyak sebagai media biaknya mikroba agar lahan sehat, subur dan minim ancaman hama penyakit.

Caranya ?

Pupuk kandang disemprot Bio Extrim, Bomqx dan Hormax. Sebanyak 10 ton/ha. Ditraktor agar homogen naik mutunya. Ditabur dolomit kapur pertanian 200 kg/ha agar pH 7 netal. Setelah 2 minggu baru ditanam, agar mikroba berbiak massal dulu. Luar biasa suburnya dan minim penyakit.

Tanah setandus apapun berubah total jadi super duper, suburnya. Biaya produksi jangka panjang teramat rendah tapi hasilnya naik tajam. Otomatis biaya dibagi hasil indeksnya rendah. Kompetitif. Jika harga pasar normal laba bisa besar. Inilah sesungguhnya kunci saya gemar bertani selama ini yaitu inovasi remediasi.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *