Mon. Mar 2nd, 2026

Menurut Global Food Security Index (GFSI) tahun 2022, ketahanan pangan Indonesia peringkat ke 4 di Asean. Di bawah Singapura, Malaysia dan Vietnam. Di tingkat dunia peringkat ke 63 dari 123 negara.

Salah satu implikasinya, prevalensi stunting Indonesia 21,4%, peringkatnya terjelek ke 2 di Asean, setelah Timor Leste. Tahun 2022 mendingan dibandingkan tahun 2013, prevalensi stunting 37%.

Ini erat sekali korelasinya dengan Global Entrepreneurship Index, Indonesia hanya 3,47% juga kalah dengan Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Ini sebab rasio gini kesenjangan ekonomi Indonesia sangat tinggi 0,388.

Ketahanan pangan sangat dipengaruhi oleh pendapatan per kapita, Indonesia peringkat ke 5 di Asean, juga kalah dengan Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Sekalipun Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terbesar ke 16 di Dunia sekitar Rp 22.000 triliun.

Keadaan di atas menandakan daya saing Indonesia masih rendah. Ditandai indeks inovasi global peringkat ke 75 dan indeks kompleksitas ekonomi peringkat 61 dari 123 negara. Akibat dari kemudahan berusaha hanya peringkat 73 di dunia.

Implikasinya usaha di Indonesia labil, terjadi PHK, mengakibatkan pengangguran tanpa pendapatan lalu miskin dan ketahanan pangan yang rendah. Seberapa pun harga pangan, bagi pengangguran tanpa pendapatan selalu dianggap mahal. Ketahanan pangannya rendah.

Contoh.

Singapura tanpa swasembada pangan. Tapi ketahanan pangannya terbaik di Asean. Bahkan dibandingkan banyak negara di dunia ini. Karena punya pendapatan per kapita 16 kali lipatnya Indonesia. Serta karena jumlah pengusaha 8,7%.

Politik anggaran ketahanan pangan Singapura mengedepankan cara meningkatkan pendapatan per kapita. Caranya jumlah pengusaha pencipta lapangan kerja dinaikkan. Agar minim pengangguran, produktivitas tinggi dan daya beli pangan tinggi.

Terbalik di Indonesia, sudah tahu ada 16,89 juta KK petani lahannya hanya 0,25 ha/KK. Dikondisikan menanam padi jagung kedelai. Yang omzetnya tidak lebih Rp 30 juta/tahun, labanya hanya Rp 1 juta/bulan. Tidak heran jika Kemenko PMK mencatat 49,8% petani Indonesia miskin dan rentan miskin.

Dampaknya rendah ketahanan pangan keluarga petani. Kolektifnya rendah ketahanan pangan Indonesia. Artinya ketahanan pangan Indonesia peringkat ke 4 di Asean akibat dari petani 49,8% miskin dan rentan miskin. Akibat langsung dari luas lahan hanya 0,25 ha/KK menanam padi jagung kedelai.

Solusinya meniru di Jepang dan Korea yaitu lahan petani diperluas. Caranya selain cetak sawah food estate hingga indeks normalnya 500 meter per kapita atau setara 14 juta hektar. Atau kurang 7 juta hektar lagi, karena saat ini luas sawah hanya 7,1 juta hektar.

Juga harus melahirkan industriawan penyerap tenaga kerja anak petani agar tidak jadi petani lahan sempit pendapatannya hanya Rp 1 juta/bulan, tapi pekerja industri pendapatannya bisa Rp 6 juta/bulan. Sekaligus menampung hasil tani di industri. Juga membayar pajak besar rutin, memperbesar APBN.

Konkretnya, Kawasan Industri ada 12 pabrik manufaktur milik 10 orang pengusaha. Karyawan totalnya 40.000 orang. Gajian indeks Rp 5 juta/bulan setara Rp 200 miliar/bulan. Jika ini tutup total maka PHK 40.000 orang, uang beredar ke masyarakat untuk gajian Rp 200 miliar/bulan ” berhenti total “, bahaya . Jadi miskin massal.

Apalagi jika korban PHK tersebut jadi petani semua maka berbagi lagi lahan makin sempit lagi. Berpotensi makin miskin lagi. Ini paling dihindari oleh semua negara di atas bumi ini. Tapi justru terjadi di negeri kita, kemiskinan petani turun temurun. Konsekuensinya anggaran ketahanan pangan ” harusnya ” 10% dari APBN.

Setara Rp 350 triliun/tahun. Untuk cetak sawah food estate 7 juta hektar lagi. Agar bisa menanam tebu 800.000 ha, sehingga impor gula 5,3 juta ton/tahun bisa diakhiri.

Bisa buat impor indukan sapi 5 juta ekor agar bisa swasembada sapi, stop impor selama ini 2,1 juta ekor 350 kg/ekor sapi cipta lapangan kerja peternak tidak menguras devisa Rp 63 triliun/tahun. Menanam bawang putih 110.000 ha agar stop impor 630.000 ton/tahun.

Impor beras, jagung, kedelai dan buah – buahan juga bisa diakhiri, jadi lapangan kerja petani dan lainnya. Petani bukan lagi sentra kemiskinan, ketahanan pangan terwujud.

Ingat secanggih apapun ipteknya, mau contract farming dan korporasi sistemnya. Kalau lahan masih 0,25 ha/KK menanam padi jagung kedelai, maka tidak sejahtera. Pendapatan laba hanya Rp 1 juta/KK/bulan. Petani tetap jadi sentra miskin rentan miskin turun temurun.

Paslon Capres Cawapres yang berani bisa membuat kebijakan politik anggaran APBN buat ketahanan pangan 10% dari APBN, itulah Paslon pilihan ideal bagi petani dan keluarganya.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *