Sun. Mar 1st, 2026

Permintaan sapi di Indonesia sangat besar, selain karena jumlah penduduk 273,8 juta jiwa agar dapat asupan protein hewani cukup. Supaya peringkat prevalensi stunting Indonesia tidak Juara 2 se-Asean, setelah Timor Leste. Juga mayoritas beragama Islam butuh sapi jumlah besar untuk Idul Adha.

Jumlah impor sapi, daging sapi dan daging kerbau. Jika semua dianggap sapi hidup setara dengan 2,1 juta ekor sapi jantan 350 kg/ekor. Dari tahun ke tahun makin meroket jumlahnya. Karena permintaan sapi tumbuh 6,8%/tahun, tapi kemampuan produksi sapi hanya tumbuh 1,3%/tahun.

Jika kita menerapkan ekonometrika, memakai ilmu matematika dan statistik untuk kepentingan ekonomi. Dasarnya data empirik masa lalu dikompilasi, dianalisa dan disimpulkan. Nampak jelas kesimpulannya bahwa sapi jadi portofolio resiko Indonesia. Capres Cawapres harus tahu ini.

Makin sedikit kesempatan kerja ternak sapi dan sumber daging sapi. Impor sapi makin meroket, seolah makin kalah telak. Padahal tahun 1980-an Indonesia sebagai negara eksportir sapi, tahun 2023 jumlah impor setara 2,1 juta ekor jantan 350 kg/ekor. Ironis memang, tapi itu faktanya. Sungguh memilukan hati.

Makin sulit menekan angka stunting yang masih Juara 5 se-Dunia yaitu 21,4%. Ini ancaman sangat serius bagi Bangsa Indonesia. Manusianya ke depan 2 dari 10 orang tidak punya daya saing. Kerdil, tidak nyambung dan kurang sehat. Tidak mandiri jadi beban orang lain dan negara.

Lalu apa solusi bijak logisnya ?

Pemerintah harus sadar dulu. Bahwa impor 2,1 juta ekor sapi 350 kg/ekor. Setara menguras devisa hampir Rp 63 triliun/tahun, jika indeks harga Rp 18 juta/ekor, harga Rp 50.000/kg sapi hidup. Setara juga bisa menghidupi 1 juta KK peternak jika butuh biaya hidup Rp 63 juta/KK/tahun.

Pendek kata, karena impor daging kerbau, daging sapi dan sapi hidup selama ini setara 2,1 juta ekor/tahun. Telah menghancurkan ” kesempatan kerja ” bagi masyarakat desa jadi peternak hilang omzetnya Rp 63 triliun/tahun, setara milik 1 juta KK peternak. Percuma banyak fakultas peternakan dan kedokteran hewan.

Apalagi impor daging kerbau, ” pembunuh potensial ” profesi peternak sapi. Jumlah impor 2,1 juta ekor jantan semua per tahun itu hasil breeding dari indukan 5 juta ekor di luar negeri 3 tahun lalu. Indukan 5 juta ekor, anaknya 4,2 juta ekor dan 50% nya anaknya jantan yaitu 2,1 juta ekor. Jika ini tanpa solusi membumi, akan makin parah lagi.

Artinya calon pemimpin Indonesia harus paham ini. Kita harus tambah indukan 3 tahun lalu 5 juta ekor jika hari ini maunya tiada impor 2,1 juta ekor sapi 350 kg/ekor. Sebaliknya jika kita mau membendung impor 3 tahun lagi maka harus ada impor sapi bunting tahun ini 5 juta ekor. Ini logika mendasar kalkulasi logisnya, saya selaku peternak sapi breeding.

Caranya mudah, asal mau. Bahwa Australia saat ini sedang menjual banyak sapi betina. Cukup buat aturan untuk importir agar impor sapi betina, pemerintah menjual tanpa laba ke peternak sapi. Utamanya di Kalimantan, pada kebun sawit lokasi ideal breeding sapi cara integrasi inovatif, intensif dengan hijauan pakan sapi mutu tinggi Gama Umami.

Jadi sebab harga pokok produksi (HPP) Sapi Nol, karena omzet limbahnya setara biaya merawat sapi (empiris). Cara inilah agar peternak sejahtera, harga sapi bisa murah meriah, tiada kapital terbang menguras devisa impor sapi, prevalensi stunting bisa diminimalkan dan akhirnya terwujud Indonesia maju karena jiwa raganya rakyat Indonesia sehat produktif.

Salam Bangkit 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *