Sun. Mar 1st, 2026

Kawula muda sebagai pemilik masa depan Indonesia. Sangat penting memahami kisah inspiratif di bawah ini. Diambil ilmu hikmahnya, betapa sangat pentingnya mengambil sikap jadi pengusaha industriawan agro ruas hilir nuansa inovasi. Dengan begitu nilai tambah yang teramat besar bisa dinikmatinya. Bersama masyarakat sekitar.

1. Kelapa.

Tahu persis selama ini kita ekspor kelapa glondongan jumlah miliaran butir per tahun. Tujuan utama ke RRC karena merekalah yang paling berani membeli harga termahal bayar duluan. Dibandingkan Thailand dan Malaysia. Kita senang dapat devisa besar rutin jangka panjang. Ada kepastian pasar dan mengurangi pengangguran kerja di kebun kelapa.

Tapi tahukah bahwa karena kita ekspor bahan baku pabrik kelapa glondongan tersebut. Lalu di RRC pabrik pengolah kelapa menjamur luar biasa hebatnya. Yang tiada jadi ada, yang kecil jadi besar dan yang sederhana makin canggih saja. Karena labanya sangat besar, buat beli sebutir kelapa cukup hanya menjual nata de coco dari air kelapanya.

Itu pun masih dapat lagi minyak goreng putih. Ada lagi dapat VCO Virgin Coconut Oil. Karbon aktif pembersih air maupun manfaat lainnya. Pembalut wanita. Pakan ternak dan lainnya. Dipasarkan ke seluruh dunia, termasuk kembali dipasarkan ke Indonesia. Pokoknya terasa kita dimanjakan. Wajar pada cepat makmur sejahtera, walaupun penduduknya lebih dari 1,4 miliar.

2. Minyak Sawit (CPO).

Walaupun hanya 7% CPO minyak mentah yang kita ekspor sisanya wujud produk turunan. Tapi 7% dari 49 juta ton/tahun juga masih sekitar 3,5 juta ton CPO/tahun kita ekspor. Paling harga CPO hanya sekitar Rp 13.000/kg. Oleh India, RRC dan lainnya dijadikan bahan baku minyak goreng, pangan lainnya, energi, farmasi, kosmetik dan 198 lagi produk turunan sawit.

Pendek kata, CPO harga Rp 13.000/kg. Diambil 60% nya dijadikan minyak goreng. Dilabeli dengan merek dagang populer dengan narasi apik humanis pada stikernya. Laku keras di luar negeri minimal Rp 25.000/kg. Padahal penambahan biaya produksi tidak lebih dari Rp 3.000/kg dengan kemasannya. Hem, labanya meriah tenan pokoke.

Itu pun masih ada 40% dari CPO tersebut. Karena inovatif Nol limbah. Dijadikan pasta gigi, sabun dan margarin. Tentu dijual sesuai harga pasar. Apalagi jika ditempeli merek dagang keren, harga terkerek melambung tinggi padahal harga pokok produksi (HPP) bahan baku nol. Karena afkir limbahnya. Enak tenan. Bagai disulap jadi kaya raya dadakan, namanya harum di mata dunia.

3. Buah Tropis, Rimpang dan Rempah.

Ini tidak kalah sedapnya. Bahan berlimpah, bisa beli murah. Jika di Indonesia mahal karena menanamnya tanpa program jelas, cukup impor dari Vietnam saja. Agar HPP bahan baku tetap rendah diadu kontan. Salahmu sendiri kok kalah bersaing dengan petani Vietnam, lupa kalau di Vietnam iklim usaha sudah baik dan Vietnam Pusat Inovasi Asean.

Sahabat saya yang satu ini gudangnya besar dan banyak berjejer di Surabaya dekat Kampus ITS Surabaya. Saat saya datang memenuhi undangan Sang Ownernya. Hem, para Supplier/Vendornya dari berbagai negara pada antri mau ketemu dengan bagian Procurement dan Keuangan termasuk bagian uji mutu (Quality Control).

Saya cuma bisa tersenyum kagum kok hebat sekali, bukan lulusan perguruan tinggi. Tapi stafnya banyak alumni Pascasarjana Teknologi Pangan. Nampak sekali suksesnya karena rendah hati menjaga etika. Leadershipnya bagus sekali hingga banyak orang tua dengan pendidikan formal jauh di atasnya pada loyal total kepadanya.

Nampak juga sahabatku ini anggaran gajian di atas Rp 2 miliar/bulan karena ada 300 orang lebih karyawannya. Nampak juga pajaknya banyak yang dia bayarkan karena PBB gudangnya banyak dan truknya banyak. Membahagiakan sekali. Mereka yang kerja dan tamunya pada respek karena dapat manfaat nyata dari kiprah usahanya.

Salam Bangkit 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *