Dunia saat ini sedang tidak baik – baik saja. Sangat sulit diduga apa yang akan terjadi beberapa hari mendatang. Geopolitik berimbas pada dinamisnya situasi ekonomi global. Implikasinya ada yang dadakan kaya raya, begitu juga sebaliknya. Ini mesti penuh ke hati – hatian dalam menyikapi.
Karena dunia sedang dalam kepanikan, wajar saja jika permintaan pasar global juga turun drastis. Implikasinya pabrik pemasok kehilangan pesanan, barang numpuk, lalu rasionalisasi tenaga kerja (PHK) demi sehatnya cashflow.
Karena terus berlanjut gelombang PHK besar – besaran di seluruh dunia. Maka mantan karyawan tiada pendapatan rutinnya. Daya beli anjlok. Karena daya beli anjlok, untuk menghindari inflasi naik liar, mencari solusi pangan murah. Sebagai kebutuhan mutlak harian.
Komponen pangan nilai kapitalnya besar dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas dan ada juga bauran keduanya. Beras misalnya, murah tapi butuhnya banyak dan mutlak harus ada setiap saat dengan harga terjangkau. Jika pemerintah tidak mau kena marah rakyatnya secara massal.
Daging sapi kerbau. Butuhnya tidak sebanyak beras. Tapi harganya terus meroket pada beberapa tahun terakhir. Di Australia dan negara Asean banyak beralih ke ikan, utamanya budidaya air tawar ditandai makin meroket permintaan pasarnya.
Di Indonesia sendiri yang target harga daging maksimal Rp 80.000/kg, tidak pernah bisa dipenuhi. Alhasil impor daging kerbau India yang murah meriah, itupun masih di atas Rp 80.000/kg di end user. Tapi mendingan dibandingkan harga daging sapi Rp 150.000/kg, ini menguras kantong masyarakat dan devisa negara.
Konsekuensi logisnya dari impor daging kerbau harga murah meriah dan daging sapi relatif murah juga, yang jumlahmya ratusan ribu ton/tahun tersebut. Dampaknya kontan peternakan sapi di Indonesia banyak yang gulung tikar. Karena kalah bersaing di pasar, utamanya dari harga.
Contoh konkretmya ;
- Selama 4 tahun terakhir ini minimal ada 10 perusahaan peternakan sapi fattening (penggemukan ) pada ditutup. Apalagi jika non breeding (pembibitan), bakalan dari impor pakannya pabrikan. Jika ditotal kapasitas sapi dari kandang yang tutup di atas 150.000 ekor.
- PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. Populasi sapinya puluhan ribu ekor. Juga melaporkan kerugian besar – besaran berlarut selama 2 tahun ini. Tahun lalu di atas Rp 10,5 miliar. Tahun ini belum sampai akhir tahun sudah rugi Rp 263,3 miliar. Karena penjualan sapi turun 50,7% dampak impor daging kerbau yang ugal – ugalan.
Hukum Bisnis seperti Hukum Energi, kekal adanya. Dalam situasi terancampun masih ada peluang. Permintaan daging turun, tapi permintaan ikan naik. Begitu juga permintaan abon dari nangka muda dikemas apik kedap udara dari Indonesia justru di Eropa juga naik tajam, karena banyak mualaf alih selera dari daging sapi ke nabati karena diyakini 100% halal.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630