Menariknya judul di atas karena saya diingatkan dalam youtube nya Prof. Rhenald Kasali. Sekalipun tahun 1995 saya baca kalimat lengkapnya dibingkai apik pada dinding warung kopi yang dominan pelanggannya para kawula muda. Lengkapnya ” Mau sukses, belajar untuk praktik dan praktik untuk dipelajari “.
Mentorku dulu selalu berpesan, jika mau maju maka selalulah ambil ilmu hikmah dari apa yang baru saja kita jalankan, tiap ruas kegiatan. Cari salah dan benarnya. Lalu jadi bekal melangkah lagi pada ruas berikutnya yang agar lebih sempurna lagi. Proses itu punya ” daya dorong ” kuat untuk melakukan.
Ilmu hikmah dari 2 alinea tersebut, memberi pesan bahwa betapa sangat pentingnya agar terus cari ilmu dan dipraktikkan. Dipikirkan, dibicarakan dan dipraktikkan, serta dievaluasi lagi untuk dapat ilmu lagi. Tidak boleh hanya berhenti pada 2 ruas saja, misalnya. Misal hanya dipikirkan dan diwacanakan saja.
Percuma punya cita – cita jadi praktisi/pengusaha, jika tidak mempraktikkan ilmu. Akan miskin ilmu, jika tidak mau mencari ilmu dari apa yang telah dipraktikkan. Begitu juga sebaliknya. Kata kunci, cari ilmu lalu dipraktikkan juga demi dapat ilmu lagi dari apa yang dipraktikkan, untuk bergerak praktik lagi.
Karena konsep seperti itulah, kenapa banyak pengusaha sukses ditandai punya aset produktif jumlah besar dan mampu mengkaryakan banyak orang hingga ribuan jiwa. Tapi tidak punya ilmu teori banyak, ditandai tanpa punya gelar akademik karena memang tidak kuliah. Kuliahnya di Universitas Kehidupan, Fakultas Ilmu Hikmah.
Logikanya yang punya ilmu teori dari perguruan tinggi lebih banyak yang mudah bisa sukses. Tapi kenapa fakta lapangan 200 Konglomerat Indonesia dominan non sarjana sejak awal. Bahkan mengkaryakan puluhan ribu karyawan dan sebagian besar sarjana, sebagian lagi alumni pasca sarjana.
Sekali lagi, itu terjadi karena kuliahnya di Universitas Kehidupan, Fakultas Ilmu Hikmah. Maksudnya cari ilmu dari yang dipraktikkan dan terus dikaji lebih dalam lagi agar dapat ilmu lagi lalu dipraktikan lagi lebih sempurna lagi. Tinemune ilmu kanthi laku, dapatnya ilmu karena dijalankan.
Contoh.
Jika ada Expo Lowongan Kerja, selalu berjubel pelamar kerja dominan sarjana. Atau pernah menjalani pendidikan tinggi. Padahal tempat mereka melamar tersebut, pemilik perusahaannya tidak kuliah. Konkretnya H. Abdul Rasyid Kalteng, H. Isam Kalsel dan lainnya. Karyawannya puluhan ribu.
Pendek kata, Indonesia kebanyakan orang pintar tapi sedikit orang yang mau jadi owner perusahaan/leader. Justru yang punya ilmu teori banyak di sanalah mereka ” takut praktik “. Tidak percaya diri dengan ilmunya, sekalipun juara di kampusnya. Mendingan jadi karyawannya perusahaan milik orang bukan juara di kampus atau bahkan tidak pernah terdidik di kampus.
Kata kunci, jika ” tidak mau ” praktik beribu macam alasan untuk menunda praktik karena terbelenggu oleh perasaan dirinya sendiri. Tapi jika ” mau praktik ” jadi pengusaha sesungguhnya lebih banyak lagi juga ribuan alasan untuk secepatnya praktik dan praktik agar makin banyak dapat ilmu lalu praktik lagi, agar makin sempurna lagi praktiknya. Jadilah sukses jadi praktisi, karena banyak praktik.
” SELAMAT HARI BATIK NASIONAL. “
2 OKTOBER 2023
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630