Presiden Jokowi berulang kali mengingatkan agar kita waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kemungkinan malapetaka. Bukan hanya Indonesia saja, semua negara, bahkan di negara lain sudah banyak yang duluan menjalani malapetaka.
Itu terjadi karena perubahan iklim dan perang Rusia Ukraina yang berimbas pangan dan energi langka lalu harganya naik tajam tidak menentu sulit diprediksi. Berujung pada banyaknya korban PHK karyawan akibat tutup usahanya. Daya beli masyarakat turun drastis dan dihimpit oleh pangan mahal.
Konkretnya pabrik, mall, pasar dan tempat kerja lainnya banyak pada sepi kegiatan usahanya. Lalu rasionalisasi cashflow, karyawan di PHK parsial atau total. Tentu korban PHK labil karena tanpa berpendapatan rutin. Padahal sudah terlanjur punya kewajiban rutin untuk hidup, angsuran kredit rumah (KPR) dan angsuran motor (leasing). Mumet berat.
Sisi lain saat bersamaan, karena perubahan iklim tidak menentu, El Nino misalnya. Banyak petani yang gagal panen. Yang rugi bukan hanya keluarga petani saja. Melainkan semua masyarakat yang ” berlangganan ” jadi konsumen pangan karya para petani tersebut. Jadilah pangan langka, tidak sesuai permintaan pasar, lalu mahal.
Situasi lain lagi. Pabrik ada yang karena didemo oleh karyawannya minta gaji agar dinaikkan dampak dari biaya hidup yang naik tinggi. Owner kesal untuk menjaga cashflow lagi kacau omzetnya. Kok masih didemo pula. Sekalian saja ditutup total saja, lalu pindah investasinya ke Vietnam yang jarang ada demo dan HPP rendah karena pangan murah.
Ada lagi, banyak kisah keluarga mandiri. Punya toko di mall atau di pasar. Karena pandemi covid 19, mall dan pasar ditutup sementara. Ternyata kebablasan tutup permanen. Karena terbiasa jualan online dan membuka usaha di ruko sederhana dekat rumahnya. Ini juga berdampak bubar sentra perniagaannya pasar maupun mall.
Ada lagi, karena inflasi banyak melambung tinggi hingga di atas 100% di Argentina misalnya. Indonesia kerja keras mengantisipasinya, impor pangan besar – besaran agar berlimpah lalu harga murah. Misal impor daging kerbau, berakibat bangkrutnya banyak usaha peternakan. Pada gulung tikar juga.
Paling aneh lagi, oknum pejabat. Sudah ketagihan melakukan ” pelanggaran berat ” suka pungli kepada para pelaku usaha. Hasil punglinya untuk angsuran kredit mobilnya, agar dianggap sukses cetar membahana. Agar dipandang wah oleh masyarakat sekitarnya.
Padahal oknum pejabat tersebut tahu persis itu merusak tatanan ekonomi, misal pungli usaha pangan maka harga pangan jadi mahal beban masyarakat berat, inflasi dan stunting sulit dikendalikan. Itu sangat merugikan iklim usaha, membuat malas investasi produktif cipta lapangan kerja.
Padahal maksud tujuan pengusaha investasi produktif tersebut. Agar daya beli masyarakat terdongkrak. Agar pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tidak hanya 1/3 nya dari Malaysia terus. Agar stunting kerdil kurang gizi segera maksimal 5% saja, tidak terus bertengger 21,4% terbanyak ke 2 di Asean dan terbanyak ke 5 di Dunia.
Lalu apa solusinya ?
Semua orang punya ” hak kesempatan sama ” bisa jadi pelaku usaha. Tiada pandang bulu. Tuhan Maha Adil. Siapa yang berusaha bersungguh – sungguh, maka dialah yang menuai perubahannya. Termasuk berusaha mandiri jadi pengusaha, justru karena kena PHK. Banyak kisahnya seperti ini.
Prinsip kedua berlaku bagi semua pelaku usaha, bahwa siapa yang paling cepat adaptif dengan situasi sulit dan makin inovatif maka dialah pemenang persaingannya. Yang pasti makin inovatif maka makin kompetitif. Makin cepat adaptif dengan situasi maka makin cepat dapat solusi karena mampu improvisasi diri untuk bisnisnya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630