Semalam 20 September 2023, saya memberikan Kuliah Umum di Kampus PEPI, Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia. Hal Entrepreneurship berbasiskan pengalaman saya pribadi. Bersama Prof. Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementan.
Fokus penekanan pesan saya, sama persis dengan apa yang saya sampaikan kepada para kawula muda seminggu lalu di kampung kelahiranku di Banyuwangi Selatan. Intinya, jika mau jadi pengusaha. ” Jadilah manusia tidak peduli “, karena saya dulu awalnya seperti itu caranya.
Maksudnya ?
1. Tidak usah peduli kita tidak punya modal banyak, tetap bertekat bulat harus jadi pengusaha. Apapun caranya dan bagaimana agar pemilik modal atau barang dagangan percaya kepada kita. Karena saat itu saya pun tiada punya modal. Anak transmigrasi. Anak keluarga sangat sederhana.
Caranya, barang dagangan orang lain yang mau dijual kita bantu dipasarkan agar fast moving membangun cashflow agar usahanya sehat. Dana orang lain yang biasa diparkir, kita produktifkan agar punya daya manfaat bagi orang lain dan aset pun akan tambah banyak lagi.
2. Tidak usah peduli jika kita bukan sarjana apalagi master alumni pascasarjana. Harus jadi pengusaha, buktinya banyak non sarjana jadi pengusaha. Maka kita juga harus bisa. Jika merasa tidak pintar, tinggal merekrut para sarjana dan pascasarjana. Asal disejahterakan dan dihargai, pasti mau ikut dan loyal total.
Caranya, jika sarjana beri gaji Rp 10 juta/bulan dan pascasarjana Rp 15 juta/bulan. Syukur jika tanpa cacat nama baik ikut 5 tahun kita beri bonus kebun atau sumber side passive income lainnya, pasti mau. Pasti akan punya kesetiaan yang tinggi, membesarkan usaha kita agar makin cepat besar lagi. Agar pajak kita jadi APBN makin banyak lagi dan seterusnya.
3. Tidak usah peduli jika kita tidak punya waktu dan dengkul jumlah banyak. Apapun caranya harus jadi pengusaha. Karena saya dulu juga tanpa punya banyak waktu, sibuk jadi Guru Pelatih Militer di Dodiklatpur. Tidak punya banyak tangan, mata, telinga dan lainnya. Berdayakan orang lain.
Caranya, kita merekrut mereka yang menganggur. Diaktifkan. Diorganisir. Diberdayakan menggantikan kita di lapangan. Agar visi misi kita diwujudkan oleh mereka dengan penuh semangat suka cita. Asal dimanusiakan sebagaimana insan. Pasti kita bisa jadi pengusaha.
4. Tidak usah peduli dengan perasaan kita menganggap bukan darah keluarga pengusaha. Toh Tuhan Maha Adil, siapa yang punya niat baik, dijalankan dengan bersungguh – sungguh dan suka berbagi parsial apa yang kita punya. Niscaya Tuhan akan berpihak sesuai mau kita.
Caranya, memantaskan diri kita agar pantas jadi pengusaha. Terus dan terus belajar, membekali diri. Kontan dipraktikkan. Jangan ditunda, apalagi jadi wacana hingga Ulang Tahun Rencananya. Sungguh lucu kalau tidak nyambung diskusi dengan staf – stafnya, jika kita jadi Pengusaha. Jadi Ownernya. Jadi Komandan usahanya. Mutlak harus lebih smart.
Begitulah cara saya mengompor – ngompori kawula muda. Agar mereka tidak dibelenggu oleh anggapan dirinya sendiri. Harus bisa. Tuhan selalu adil. Tuhan selalu mengubah nasib umat yang mau mengubahnya sendiri. Jika gagal, kaji ulang. Jika rugi, juga kaji ulang. Lalu melangkah lagi, sempurnakan dengan ilmu hikmah kaji ulang tadi.
Dengan begitu, mustahil jika tidak jadi pengusaha. Mustahil jika tidak jadi Pak Tani Inovatif Indonesia. Nikmati prosesnya, bukan hanya suksesnya saja yang mau dinikmati. Hehe.
Majuuu jalan !
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630