Tue. Mar 3rd, 2026

Apapun kegiatan yang saya lakukan, pasti. Sekali lagi, pasti saya kaji ulang. Dicari apa saja yang gagal, kenapa gagal dan yang mana saja yang berhasil, apa sebabnya berhasil. Yang gagal dan berhasil diterapkan ” ilmu titen “. Ilmu titen, niteni, menandai. Diambil ilmu hikmahnya, jadi bekal saat melangkah usaha lagi. Agar makin sempurna lagi.

Sama halnya. Selama seminggu lebih saya pulang kampung. Curahjati Banyuwangi, menengok Orang Tuaku. Curahjati, kampung kecil berbatasan langsung dengan hutan jati milik PT Perhutani pada sebelah selatan, barat dan sebagian utara. Kampung kecil, Curahjati, sangat populer di Banyuwangi.

Motivator sangat penting. Tahun 1980 s/d 1985 an. Belum banyak yang kuliah, hanya saudara dekatku saja. Adiknya Ibundaku, anaknya Pakdeku, total belum genap 10 orang. Tapi mereka sangat peduli. Tiap pulang kampung, pasti ke Orang Tuaku. Pasti ” memberi motivasi ” ke kawula muda agar pada kuliah. Agar kampungnya maju, mandiri.

Selama seminggu lebih, tiap hari banyak kawula muda kumpul di rumahku. Saya bangga kepada mereka, pada mandiri. Setidaknya setelah saya data 70 orang lebih sarjana jadi petani, 25 orang lebih mantan TKI pada jadi pebisnis hasil tani dan sarana pertanian.

Karena hamparan sawah di belakang rumahku hanya 800 an hektar. Itu pun tadah hujan. Sudah hampir tiada yang menanam padi. Adanya buah tropis, Buah Naga dengan terapan teknologi lampu agar buah sepanjang tahun tanpa kenal musim jika malam sawah terang benderang, Jeruk manis dan pecel, Jambu Deli dan Citra, Melon dan lainnya.

Karena limbah pertanian berlimpah banyak peternak sapi dan kambing. Daun randu tiang panjat buah naga, tebon batang daun jagung manis. Kesemuanya jadi pakan ternak. Kambing Etawa diambil susunya diolah jadi tepung powder. Buah Naga, isinya jadi powder dan kulitnya jadi keripik vakum. Daun mahoni dikumpulkan. Kesemuanya diekspor.

Saya suka sekali mereka tidak rebutan jadi petani semua lalu rebutan sawah, lalu makin sempit lagi indeks kepemilikannya. Mereka main di ruas hilir nuansa inovatif. Menyerap pengangguran sistem borongan. Jangan harap bisa cari anak muda mau digaji tetap, misal Rp 3 juta/bulan. Sama sekali tiada seorang pun.

Keanehannya, 90% pelaku usaha pertanian, perdagangan dan peternakan ayam sapi kambing domba mereka mantan TKI dari Jepang, AS, Taiwan dan Korsel. Selalu saya gali ilmu pengalaman lapangan yang teramat mahal saat mereka di luar negeri. Karena saya amati mereka yang gigih makin inovatif.

Ternyata bisanya mereka karena membiasakan diri cari ilmu, kontan dipraktikkan ilmunya. Suka latah kepada perilaku inovatif yang lainnya. Tanpa banyak wacana rencana, apalagi hingga HUT Rencananya karena selalu ditunda – tunda. Sekali lagi, tiada saya maksud membusungkan dada. Saya bangga mereka ! Salut !

Sebagian lagi, ada yang gagal atau mau mengembangkan usaha. Selama ini sudah lebih dari 100 KK yang ikutan pindah ke Pangkalan Bun Kalteng. Ada yang bangkrut karena usaha atau biaya studi anak – anaknya. Ada juga yang menjual sawah dan rumahnya.

Agar bisa 20 kali lipat lagi luas lahannya. Misal punya sawah 0,3 hektar dan rumah, ditukar jadi 60 hektar di Pangkalan Bun Kalteng. Dampaknya bagi Pangkalan Bun Kalteng, lahan terlantar semak belukar jadi berkurang. Lahan tidur terlantar jadi produktif.

Tahun 2012 saya datang pertama ke Pangkalan Bun Kalteng, banyak hasil tani buah maupun sayur didatangkan dari Jawa. Saat ini telah swasembada. Tanpa perlu pangannya harga mahal karena ongkos kirim dari Jawa dan tanpa perlu ada kapital terbang besar – besaran rutin.

Mereka pada kaget awalnya, betah karena masyarakat Kalteng umumnya pada ” welcome ” ramah jika ada pendatang membawa kecerdasan lapangan nuansa inovasi, membawa dana untuk investasi produktif dan mau bersinergi dengan masyarakat sekitar. Terpenting, aman nyaman. Empiris saya belum pernah ada maling walaupun kebunku ratusan hektar dan sapi ratusan ekor, nol tanpa ada satpam.

Prinsip, Manusia saat bersifat individu hanya bagai embun pagi belaka, tiada kekuatan. Tapi jika manusia bersifat sosial menyatu dan bersinergis, kekuatannya teramat dahsyat karena bagai samudera biru. Inilah esensi dari betapa sangat berharganya menjaga kebersamaan saling menguatkan. Bukan sebaliknya, saling olok – olokan.

Kemajuan itu semua bisa terwujud jika ada peran motivator berbasiskan pengalaman keteladanan dan keterpanggilan hati untuk berkontribusi. Kampung kita tidak mungkin dimajukan oleh Tuhan begitu saja, jika kita pemilik kampung tidak berusaha memajukannya.

Bahasa Bataknya, ” Marsipature Hutanabe/Mari Benahi Kampung Masing – masing “.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *