Tue. Mar 3rd, 2026

Sudah umum disampaikan oleh orang – orang yang banyak pengalaman mengelola usaha. Bahwa mereka dapat ” ilmu usaha ” justru karena pernah gagal. Di balik gagal jika digali banyak tambang emas ilmu hikmahnya. Lalu ilmu hikmah itulah dijadikan bekal menyempurnakan ” langkah usaha ” berikutnya.

Tapi sayangnya jarang ada yang mau peduli mengurai kenyataan yang dialami peristiwa dapat ” ilmu usaha ” dari kegagalan tersebut. Publik hanya sekedar tahu dan hafal kalimat bijak tersebut. Padahal proses mengurai dan menggali ” ilmu usaha ” di balik gagal penting sekali, agar jadi bahan pembelajaran yang muda atau pemula usaha.

Itulah sebabnya orang kampung punya semboyan ” Tinemune ilmu kanti laku/ketemunya ilmu jika sudah dijalani “. Adanya orang sukses berusaha dari nol hingga besar dan menggurita tanpa pendidikan formal teramat tinggi, karena dapat ilmunya di balik kegagalannya. Terus dan terus berusaha lagi, sampai ketemu keseimbangan agar berkembang.

Ada lagi di kampung, namanya ” ilmu titen “, ilmu niteni yaitu ilmu menandai. Menandai sebabnya gagal dicari dan sebabnya berhasil juga ditandai. Bukan hanya pada kisah dirinya sendiri. Tapi juga ” niteni/menandai ” jejak kisah orang lain. Hingga, kok bisa mantan buruh lalu punya sawah puluhan hektar di kampungnya, padahal SD tidak tamat.

Apakah lantas mereka tidak bisa dikatakan pintar atau cerdas atau ahli di bidang usaha ? Jika kita yang sempat kuliah, lalu berani mengatakan mereka ” tidak pintar “. Rasanya kita terlalu tinggi hati, lupa diri dan butuh mawas diri. Kenapa ? Karena mereka mampu memimpin para alumni lulusan perguruan tinggi hingga pasca sarjana. Jika dibalik bisakah berperan serupa ?

Konkretnya, hasil penelitian. Kenapa dari 100 orang terkaya di Indonesia yang mengkaryakan (cipta lapangan kerja) hingga puluhan ribu pengangguran jadi produktif. Sebanyak 87% latar belakangnya dari susah dan pendidikan formalnya rendah. Kalaupun ada yang bergelar akademik, karena ditempuh setelah jadi pengusaha sukses.

Lalu, apakah berani kita menghakimi para konglomerat tersebut bukan orang pintar. Karena tanpa gelar. Tanpa pendidikan formal menjulang tinggi. Dunia kekinian makin menuntut situasi pertempuran ” berebut ” lapangan kerja. Siapa yang punya ilmu, skill dan berpengalaman punya kontribusi. Itulah yang ” diakui ” oleh publik.

Apalagi makin majunya teknologi inovasi. Keadaan memaksa kita harus berebut cari kerja melawan robot, drone, digital dan kecerdasan buatan. Padahal itu semua buatan manusia juga. Manusia ” Inovator “. Manusia ” hebat “. Yang mengedepankan efisiensi, efektivitas dan percepatan. Guna menekan harga pokok produksi (HPP) agar makin kompetitif daya manfaatnya.

Contoh :

1. Seseorang gagal dan bangkrut. Tahu dan dapat ilmu usaha. Hal pentingnya menjaga cashflow, keseimbangan PPIC (Production Planning and Inventory Control), vitalnya peran pemasaran, mahalnya sebuah nama baik dan ilmu lainnya. Justru didapat ilmu sebanyak – banyaknya, pada saat bangkrut, lalu mau kaji ulang dan kembali melangkah usaha lagi.

2. Bangkrut karena tertipu. Mungkin karena masih punya ilmu ekspansif dengan sembrono. Belum punya ilmu kendali menjaga keseimbangan neraca keuangan dan waspada menentukan mitra usaha. Masih punya ilmu arogan merasa paling pintar, pantang tidak dibilang hebat, bahasa Bataknya ” Pantang sobilak ho “. Setelah bangkrut karena tertipu baru sadar, baru dapat ilmu antisipasinya. Barulah mulai tahu diri dan rendah hati, jauh dari sifat iri dengki.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *