Disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa 50% negara di atas bumi ini, saat ini telah terdaftar resmi jadi pasien IMF. Dampak langsung dari kembali meroketnya harga pangan dan energi dunia. Bagai tsunami pangan. Kalau kita simak, harga pangan habis naik tinggi lalu turun drastis dan naik lagi setinggi – tingginya saat ini sedang terjadi.
Syukur sekali Indonesia termasuk negara terbaik dalam pengendalian inflasi, ini juga dilaporkan oleh Gubernur Bank Indonesia Bapak Perry Warjiyo. Ini juga masih ada pekerjaan berat di beberapa daerah harga pangan masih sangat tinggi misal di Prov. Kalimantan Tengah, pasti inflasinya tergolong tinggi.
Tingginya harga pangan dampak langsung dari tambahnya jumlah permintaan pangan, tapi menurunnya jumlah pasokan produksi, ini lazim Hukum Pasar. Kenapa terjadi pangan mahal akibat pasokan kurang, multi sebab. Bisa karena daerah tersebut tidak swasembada pangan atau karena sulitnya bahan pangan masuk ke daerah tersebut.
Lalu kenapa sulit proses memasukkan pangan dari daerah lain ke daerah tertentu, lalu pasokan kurang, pangan jadi langka membentuk harga pangan mahal dan inflasi naik. Ini konkret akibat iklim usaha belum baik. Akibat pelayanan masyarakat dunia usaha patut mawas diri. Ruwetnya birokrasi investasi.
Patut jadi catatan terpenting bahwa ” Ibarat gelas sangat terasa bermanfaat bukan saat ada gelas di mana – mana, tapi justru jika gelas itu telah tiada. Petani peternak terasa besar manfaatnya saat pangan telah jadi langka dan mahal. Lalu jadi naiknya inflasi. Sulit menghilangkan tingginya prevalensi stunting “.
Jika petani peternak sebagai investor massal di bidang pangan mulai enggan investasi. Apalagi hingga apatis tidak mau tahu. Itulah pangkal masalah yang sesungguhnya dari banyaknya masalah yang akan timbul ramai – ramai bermasalah serius jangka panjang.
Jika petani peternak tanpa investasi massal, pelaku bisnis pangan enggan menggairahkan usahanya. Tidak mau mendatangkan pangan dari daerah lain sentra pangan. Maka pangan jadi mahal, inflasi naik, kemiskinan sulit diturunkan karena pengangguran bertambah dan stunting kerdil kurang gizi berdampak serius bagi masa depan suatu daerah.
Itulah sebabnya kenapa pidato Bung Karno, saat peletakan batu pertama pembangunan Kampus IPB Bogor. Begitu panjang penuh penegasan bahwa pangan soal hidup matinya sebuah bangsa, kampus IPB dibangun untuk memastikan agar pangan Indonesia berdaulat dan terjangkau.
Karena diharapkan akan ada banyak petani peternak inovatif lahir di IPB, karena akan banyak Ilmuwan pertanian pangan akan lahir di IPB, akan banyak pejabat di bidang pangan lahir di IPB juga, akan banyak pejabat bank yang membela pangan lahir di IPB, akan banyak wartawan yang menyuarakan pentingnya pangan lahir juga di IPB dan seterusnya.
Begitu juga kampus lainnya, yang ada fakultas yang terkait pangan. Diharapkan lahir para pelaku utama usaha pangan. Akan lahir juga para ASN yang konsisten menjaga nama baiknya melayani masyarakat dunia usaha pangan dengan baik benar sesuai sumpah jabatannya.
Sekali lagi, impor beras 2 juta ton tahun 2023, impor daging setara 2,1 juta ekor sapi Bali 350 kg tahun 2021. Makin banyak impor gula, impor bawang putih hampir total kebutuhan tak ubahnya impor gandum dan susu. Ini semua hanya akibat saja. Akibat kurang investor pangan.
Kurang jumlah produksi nasional. Akibat kurang serius membangun SDM bidang pangan yang mau investasi pangan. Kurang baik melayani pelaku usaha bidang pangan, bagian dari iklim usaha.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630