Indonesia pemilik sawit terluas di dunia yaitu 16,8 juta hektar. Dengan produksi CPO, minyak mentah sawit, sebanyak 46,8 juta ton/tahun 2022. Diprediksi oleh Menkomarives Bapak Luhut Binsar Pandjaitan akan tembus 100 juta ton CPO/tahun, pada beberapa tahun lagi.
Prediksi tersebut sangat logis, karena 5 tahun terakhir ada program peremajaan sawit besar – besaran hingga semua lembaga penghasil benih unggul hasil riset pusat penelitian. Misal PPKS Medan dan swasta lainnya pada kewalahan hingga antri untuk memenuhi pesanan benihnya.
Perhitungannya, data potensi CPO dengan varietas DXP PPKS 540, sebanyak 8,1 ton CPO/ha/tahun. Jika dianggap hanya 7,5 ton CPO/ha/tahun dan dianggap hanya 14 juta hektar yang produktif dari 16,8 juta hektar. Maka akan menghasilkan 14 juta ha x 7,5 ton = 105 juta ton CPO/tahun.
Padahal pasar di dalam negeri hanya 20 juta ton CPO/tahun. Jika dengan berubah dari B30 ke B35 akan maksimal 25 juta ton CPO/tahun. Sisa 75 juta ton CPO/tahun harus diekspor. Jika ini tidak diserap oleh pasar global, harga sawit anjlok lagi. Ancaman serius ekonomi Indonesia.
Jika dibuat analisa SWOT, sawit salah satu kelebihan utama Indonesia. Tulang punggung ekonomi Indonesia, karena mampu menyerap tenaga kerja 17 jutaan kepala keluarga, cetak devisa Rp 635 triliun (2022), menghemat devisa meminimalkan impor solar fosil hingga Rp 68 triliun/tahun.
Jika dianalisa SWOT, sapi adalah kelemahan Indonesia. Karena menguras devisa impor sapi, daging sapi dan kerbau. Sekitar Rp 45 triliun/tahun. Itu pun belum jitu membuat harga daging murah, masih Rp 150.000/kg. Terlalu mahal bagi Indonesia yang pendapatan per kapitanya masih urutan ke 5 di Asean. Hanya 1/3 Malaysia.
Sisi lain lagi, biaya penyerta produksi sawit Indonesia masih didominasi oleh pupuk kimia NPK, impor. Biaya pupuk NPK sekitar 42% dari total biaya produksi. Ini sangat membebani. Selain itu anggaran herbisida juga cukup banyak. Kedua hal tersebut bisa diatasi dengan integrasi sawit sapi.
Empiris, ternyata dengan saya memelihara sapi di kebun sawit. Bisa menekan pemakaian pupuk NPK kimia hingga 75%. Selain meniadakan anggaran herbisida, karena dimakan oleh sapi. Begitu sebaliknya, limbah sawit bungkil dan solid bisa jadi pakan sapi murah meriah. Sangat menekan harga pokok produksi (HPP).
Solusinya ?
Agar CPO harga tetap stabil tinggi laba sehat. Harus ada upaya khusus pengembangan pasar. Agar ada kepastian jumlah besar jangka panjang maka barter antara CPO dengan sapi. Konsep ini meniadakan ancaman harga sawit akan turun jika 100 juta ton CPO/tahun. Sekaligus kebun sawit konkret jadi sentra produksi sapi.
Jika 7 juta ekor sapi betina indeks Rp 10 juta/ekor. Maka setara Rp 70 triliun. Setara juga dengan hanya 5 juta ton CPO, jika indeks harga Rp 14.000/kg CPO. Setara hasil panen sawit luas 700.000 ha benih inovatif, jika menghasilkan 7,5 ton CPO/ha/tahun. CPO dapat kepastian pasar, sapi dapat indukan murah dari Brasil, Kenya, Meksiko dan Australia. Sangat sinergis.
Implikasi positifnya. Masa depan Indonesia makin cerah, harga daging akan turun drastis menurunkan stunting yang masih 21,6% agar tinggal 5% idealnya. Karena breeding sapi murah di kebun sawitan. Tercipta lapangan kerja minimal 1,2 juta peternak.
Kesimpulan, barter antara CPO dan sapi betina produktif. Akan menjaga harga sawit dunia makin tinggi. HPP sawit dan sapi sangat rendah, karena meniadakan limbah jadi bermanfaat. Sumber pangan protein hewani akan makin berlimpah dan murah terjangkau. Pendapatan per kapita akan naik. Hemat devisa jangka panjang.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630