Situasi dunia saat ini benar – benar teramat sulit diprediksi. Utamanya harga pangan dan sarana pendukung produksinya. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mengingatkan berulang kali agar semua negara waspada tinggi terhadap kesediaan pangannya.
Sangat dinamis. Diprediksi harga pangan dan sarana produksinya mengalami kenaikan tajam. Karena banyak sebab di antaranya perubahan iklim, perang Rusia Ukraina dan lainnya. Akibat dari jumlah produksi kurang dibandingkan jumlah permintaan.
Tapi fakta lapangan beda lagi. Beras hingga harganya meroket jauh dibandingkan tahun lalu. India mengerem ekspor beras, Australia berebut belanja beras. Sisi lain saat bersamaan harga pupuk kimia justru beberapa bulan ini menurun drastis dan harga sapi dari Australia anjlok.
Dinamika lapangan harga pangan saat ini. Banyak pelaku usaha yang kena pukulan telak, misal diprediksi harga akan naik terus lalu memaksakan diri agar stoknya banyak supaya labanya banyak. Konkretnya stok sapi dan pupuk NPK kimia diperbanyak. Ternyata harga turun. Bisa remis dan rugi.
Bahkan jika tidak segera membuat keputusan bijak cerdas bisa makin besar kerugiannya. Konkretnya jika sapi impor sudah besar tidak dijual, nunggu harga mahal, maka makin tenggelam. Karena dulu modal belinya Rp 56.000/kg saat ini hanya Rp 39.000/kg. Ini masih berpotensi turun harga lagi.
Begitu juga pupuk NPK kimia. Barang impor. Terlanjur gudang dipenuhi agar laba banyak saat harga terus naik mau dijual. Ternyata harga makin turun terus. Jika tidak segera dikosongkan maka makin cepat kedaluwarsa dan harga terus turun sejalan makin banyak ruginya. Ini fakta lapangan yang sedang terjadi.
Situasi asimetrik seperti saat ini. Seakan membantah teori ilmu ekonomi, fokusnya pada kajian portofolio ekonomi matriks. Biasanya pebisnis yang selamat, bahkan justru momentum mengembangkan usahanya adalah yang mampu cepat adaptif dengan situasi yang terjadi.
Yang normatif apalagi yang ambisi sangat tinggi justru akan jadi korban. Terutama yang apatis dengan dinamisnya situasi, makin gigit jari. Bisa dibayangkan jika punya sapi puluhan ribu ekor, modal beli bakalan hampir 2 kali lipatnya harga saat ini. Bayangkan jika stok pupuk NPK ribuan ton, tapi harga jatuh.
Kali ini saya berpikir negatif. Asimetrik. Permainan kelas kakap. Khusus sapi dari Australia diisukan terjangkit penyakit LSD (Lumpy Skin Disease). Australia membantahnya. Ini skenario besar, agar tidak impor dulu. Agar stok lama yang modal mahal habis dulu.
Setelah stok lama yang mahal habis baru impor besar – besaran harga murah, laba pun meriah. Saat bersamaan dianggap penyakit LSD pada sapi sudah terkendali. Saya sangat memaklumi, tahun politik. Segala kemungkinan skenarionya bisa saja terjadi.
Siapa yang jadi korban kena imbasnya ?
1. Tentu masyarakat kecil. Ibaratnya kalau para Bonggol bergoyang, maka cabang, apalagi ranting jadi pontang panting. Solusinya hanya satu saja. Bersatu padu membangun kedaulatan nasional yang kuat.
2. Melalui swasembada dengan cara memberdayakan masyarakatnya yang ada. Bukan masyarakat luar negeri dan importir yang disejahterakan, karena lihai memanfaatkan besarnya potensi pasar di Indonesia.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630