Sun. Mar 1st, 2026

Bangkit dari bangkrut tidak semudah dibayangkan. Juga tidak semudah melanjutkan bisnis warisan dari orang tua atau karena hibah dari pemerintah. Bisa bangkit kembali dari kebangkrutan pekerjaan yang teramat berat. Bahkan berat sekali.

Itulah sebabnya banyak pelaku usaha, pengusaha, pebisnis dan startup pemula perintis usaha jika sudah bangkrut umumnya kapok. Tidak mau bisnis lagi. Karena multi sebab. Bukan hanya kehilangan karyawan yang banyak dan aset produktif yang banyak.

Melainkan karena hilangnya nama baik, kepercayaan publik dan jatuh mental karena rasa malu yang berlebihan. Ini yang umumnya mereka tidak bisa terima. Konkretnya, pelanggan biasanya penuh rasa hormat berubah 180 derajat jadi sebaliknya. Bagai siang jadi malam.

Tapi asal hati ikhlas dan sabar. Mental dibangun agar ibarat besi jadi baja. Ibarat disiram hinaan tidak basah, dijemur caci makian tidak kering. Kecerdasan dan percepatan menyikapi, hal mutlak. Berserah diri kepada Nya, niscaya cepat bangkit lagi.

Berikut ini pengalaman saya pribadi pernah bangkrut 14 tahun lalu, tahun 2008, sebanyak Rp 38 miliar. Salah satu penyebab mudah bangkit karena cepat adaptif dengan inovasi, menghilirisasi hasil penelitian para peneliti. Karena dengan itu harga pokok produksi (HPP) rendah dan laba tambah.

1. Tahun 2012.

Beli lahan 12 hektar, lokasi sangat strategis di pinggir jalan pertigaan hanya 10 menit dari Bandara dan Kantor Pemda Pangkalan Bun Kalteng. Saya tanam sawit, bibit beli siap ditanam. Ternyata bukan asli. Saya tertipu. Sangat kecewa karena produktivitas dan rendemen CPO sangat rendah.

Lalu oleh pabrik kelapa sawit dihargai murah. Rugi banyak dana, waktu, kesempatan dan lainnya. Saya jual. Dibelikan lahan baru, ditanam benih DXP Simalungun PPKS Medan. Hasil riset. Produktivitasnya hampir 2 kali lipatnya. Omzet dan laba melonjak, kebangkitan dari bangkrut didapat karena karya Peneliti.

2. Tahun 2021.

Sejak tahun 2018 saya ternak sapi dimulai dari 3 ekor. Pakannya memakai hijauan rumput gajah. Saya kaji ulang percepatan tumbuh rumput gajah biasa sangat lambat. Protein kasar hanya 4% dan biomassa hanya 120 ton/ha/tahun. Saya kaji ulang sangat boros lahan, waktu dan lainnya.

Saya ganti total dengan rumput Gama Umami. Ada perbedaan nyata. Gama Umami 700 ton/ha/tahun dan kadar protein kasar 16%. Artinya 1 ha Gama Umami dari UGM Yogyakarta bisa buat 70 ekor sapi Bali. Harga pokok produksi (HPP) per kg hijauan rendah. Berkat karya Peneliti Prof Nafi/Prof Umami.

Guna meningkatkan pertambahan bobot per hari saya kombinasi limbah sawit bungkil dan solid. Saya uji mutu proksimat di Sucofindo hasilnya kadar protein kasar di atas 17%. Praktis. Saya uji efektivitas lapangan. Hasilnya menggembirakan. Feses dan urine saya riset 6 bulan. Ternyata biaya produksi setara omzet dari limbah sapi. Berkat mau meneliti.

3. Karena pasca bangkrut Rp 38 miliar tahun 2008. Berusaha cepat bangkit. Karena lelah jadi orang susah akibat kalah. Melakukan riset sendiri dana pribadi. Membuat formula pupuk hayati/mikroba dan hormonal. Jadilah Bio Extrim, Hormax dan Organox. Banyak dipakai petani hingga saat ini juga.

Setelah uji mutu di Fakultas MIPA IPB University dan Kebun Percobaan IPB University Pasir Sarongge Cianjur. Juga saya uji sewa lahan tandus 21 ha, jadi sawah subur sangat produktif selama 5 tahun. Hasil naik 2 kali lipatnya dibandingkan kontrol lahan tanpa remediasi Bio Extrim, Hormax dan Organox.

Ilmu hikmahnya..

Percepatan kebangkitan dari kebangkrutan. Selain karena ridho Tuhan YME. Doa restu orang tua. Mental berani melawan kemalasan. Tidak kalah pentingnya adalah karena percepatan adaptif dengan hasil inovasi dan melakukan proses riset sendiri di lapangan. Komersialisasi inovasi sungguh membantu praktisi.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *