Dalam sebuah buku yang saya baca sekitar tahun 1995-an. Saya lupa karangan siapa. Yang pasti menurut saya sangat bagus dan bermanfaat. Nuansanya membangun diri sendiri yang berimbas luas jangka panjang, hal kepedulian dan partisipasi aktif konkret.
Beberapa tahun silam, saya kerap kali mengadakan pertemuan persahabatan dengan sesama pelaku usaha kelas menengah. Kadang membahas problematika di usaha masing – masing, berbagi cerita dan partisipasi solusinya. Sesuai seni memimpin masing – masing.
Kadang juga kami membahas hal masyarakat kita dan hal bangsa Indonesia. Beragam ide gagasan dan alternatif solusinya. Yang terukur bisa dilakukan oleh dirinya sendiri, tapi bagian dari solutif. Tapi kadang juga lucu membandingkan dengan negara lain, bukan ukurannya.
Kesimpulannya, ternyata sama persis apa yang dikeluhkan sesama pebisnis saat mengelola bisnisnya. Paling berat dan rumit tiada henti adalah masalah ” kepedulian ” yang dipimpin. Begitu juga lambannya mengatasi masalah yang kaitannya ke layanan pemerintahan, juga masalah ” kepedulian “.
Dalam buku tersebut ditegaskan berulang kali bahwa sukses tidaknya seseorang letaknya pada ” mental kepedulian ” nya. Itu cikal bakalnya. Peduli terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan bumi ini.
Begitu juga dalam bukunya Kisah Bung Hatta, tidak jauh beda. Percepatan majunya Bangsa Indonesia terletak pada ” kepedulian dan partisipasi ” segenap Anak Bangsa Indonesia itu sendiri. Begitu juga lestari tidaknya bangsa kita ini. Bukan karena sesuatu hal yang muluk – muluk melangit, tapi peduli yang membumi.
Kepedulian, hakikatnya tindakan nyata respon solutif atas permasalahan yang nampak di depan kelopak mata. Juga bagian dari partisipasi kontribusi konkret. Ibaratnya, nilai dana Rp 1 triliun sekalipun tiada jadi genap jika tanpa partisipasi dana Rp 1.000,-. Itulah pentingnya peduli dan partisipasi.
Dalam buku tersebut diuraikan ” kepedulian dan partisipasi ” kepada ;
1. Dirinya.
Seseorang tiada kan mungkin bisa sehat, bahagia dan bermanfaat bagi orang lain jika tanpa ” peduli dan partisipasi ” kepada dirinya dengan asupan pikiran dan makanan yang baik. Tiada mungkin terwujud jika tanpa gemar olahraga rutin. Tiada bermanfaat jika tanpa hati, pikiran, ucapan dan perbuatan nyata.
2. Sekitarnya.
Ini diartikan secara luas dan jamak. Bisa bermakna keluarga rumah tangga, keluarga besar, tempat kerja dan lainnya. Hingga ada kalimat bijak bersukma dalam ingatan saya, ” Miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki “. Tanpa landasan itu mustahil akan berjuang ” peduli dan partisipasi ” agar keluarga makin lebih baik lagi.
Antonimnya dari kepedulian dan partisipasi adalah melakukan proses pembiaran secara sadar terhadap permasalahan yang ada terlihat oleh mata dan nyata bisa dirasakan terus menerus, dibiarkan tetap jadi masalah tanpa solusi. Situasi ini yang dikritisi dalam buku tersebut.
1. Banyak orang yang mimpi ingin jadi insan sukses, tapi tanpa mau mengawali membangun diri, agar refleks ” peduli dan partisipasi ” solutif terhadap permasalahan yang ada di sekitarnya. Ada masalah tidak terlihat, yang terlihat pun tanpa tindakan nyata mengatasinya.
2. Banyak orang maunya dikenang indah sepanjang zaman saat memimpin, tapi tanpa peduli untuk mengatasi kesulitan – kesulitan yang dipimpinnya. Ada jeritan yang dipimpinnya pura – pura tidak dengar, yang didengar pun tanpa tindakan nyata mengatasi masalah yang jadi sebab jeritannya timbul.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630